<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5213984288985365579</id><updated>2012-01-08T01:36:19.366+07:00</updated><title type='text'>Semangat Pemuda Indonesia</title><subtitle type='html'>ciptakan rasa aman pada bangsa Indonesia inilah kesempatan kita bangun dari keterpurukan. Ayo maju..
M E R D E K A !!!!!!!!!!!!!!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>pandu rizki alfian</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SLZfkK4VTkI/AAAAAAAAABo/dMnL7Rb0axQ/S220/pandu+3.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>19</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5213984288985365579.post-3954536044499798303</id><published>2009-08-15T11:10:00.002+07:00</published><updated>2009-08-15T11:27:49.050+07:00</updated><title type='text'>Insiden Bendera di Hotel Yamato Surabaya</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SoY4VxTMY0I/AAAAAAAAAI8/4XJxCh5PwMY/s1600-h/kkko.jpeg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 227px; height: 195px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SoY4VxTMY0I/AAAAAAAAAI8/4XJxCh5PwMY/s400/kkko.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370041552348144450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;NILA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;H&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt; awal gerakan sporadis&lt;/span&gt;&lt;span&gt; A&lt;/span&gt;&lt;span&gt;rek-arek Suroboyo menantang dan melawan keinginan &lt;/span&gt;&lt;span&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span&gt;olonia&lt;/span&gt;&lt;span&gt;l un&lt;/span&gt;&lt;span&gt;tuk kembali menancapkan kukunya menjajah bumi pertiwi, Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Tang&lt;/span&gt;&lt;span&gt;gal 19 September 1945 bagi warga&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Kota Surabaya, harus selalu dikenang. Sebab &lt;/span&gt;&lt;span&gt;itulah g&lt;/span&gt;&lt;span&gt;erakan heroik yang sulit dilupakan sebagai awal kebangkitan Arek Suroboyo yang kemudian berkobar dalam peristiwa 10 November 1945. Tanggal yang menjadi tonggak sejarah, sehingga Kota Surabaya memperoleh predikat “Kota Pahlawan”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Betapa tidak, kejadian di tanggal 19 Sptember 1945 yang dikenal dengan “insiden bendera”, merupakan pemicu semangat juang Arek Suroboyo. Adanya peristiwa perobekan bendera Belanda tiga warna “merah-putih-biru” di atas gedung hotel Yamato (nama di zaman Jepang yang semula zaman Belanda bernama hotel Orange, kini bernama Hotel Majapahit) di Jalan Tunjungan 65 Surabaya itu, benar-benar memperkokoh persatuan pemuda pergerakan di Surabaya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Hotel Majapahit, sekarang ini, di zaman Belanda bernama LMS Orange Hotel. LMS adalah singkatan nama Lucas Martin Sarkies. “Orange” adalah warna kebanggan bangsa Belanda. Bahkan, hingga sekarang kesebelasan sepakbola nasional Belanda menggunakan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;seragam kaus berwarna orange. Sewaktu Jepang berkuasa, nama hotel ini diganti menjadi Hotel Yamato.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Wiwiek Hidayat (alm) mantan kepala kantor berita “Antara” di Surabaya, saat masih hidup di tahun 1990-an dalam wawancara dengan penulis pernah mengungkap berbagai peristiwa di tahun 1945. Banyak hal tentang perjuangan Arek Suroboyo dan para wartawan di kala itu yang diceritakan kepada penulis. Ada yang dalam bentuk wawancara, maupun bincang-bincang di waktu senggang. Berbagai&lt;span&gt; &lt;/span&gt;kisah masa lalu banyak yang sempat kami catat dari tokoh pers dan pelaku sejarah perjuangan Surabaya ini .&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Dari Tunjungan 100&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Kendati tidak ikut naik ke atas gedung hotel Yamato yang persis di depan kantor berita Antara di jalan Tunjungan 100 Surabaya itu, Wiwiek Hidayat adalah saksi mata. Ia&lt;span&gt; &lt;/span&gt;mengabadikan dan mencatat dengan rapi kejadian di puncak hotel yang kemudian bernana Hotel Majapahit itu. Pak Wiwiek – begitu wartawan senior ini biasa disapa – secara tegas menyatakan tahu persis nama orang yang merobek kain warna biru dari bendera Belanda itu. Kain warna biru itu dirobek dengan digigit. Setelah robek, dua warna merah putih tersisa kembali diikatkan ke tiang bendera dan menjadi sangsaka merah-putih. “Nama orang itu adalah Kusno Wibowo yang dibantu Onny Manuhutu dan ada dua orang lagi yang saya tidak kenal,” kata Pak Wiwiek.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Memang, ada yang lain, tetapi mereka membantu membawa tangga dan hanya naik ke atap gedung bagian tengah, serta beramai-ramai berteriak penuh semangat. Jadi yang berada di puncak tempat tiang bendera itu, hanya ada empat orang. Foto dokumentasinya masih tersimpan di kantor berita “Antara”, ujar Pak Wiwiek waktu itu. Anehnya, kemudian banyak orang lain yang mengaku-ngaku sebagai pelaku perobekan. Sehingga, akhirnya diputuskan dan disepakati bahwa pelakunya adalah “&lt;em&gt;Arek Suroboyo&lt;/em&gt;” (tanpa nama).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Pak Wiwiek di tahun-tahun terakhir sebelum beliau berpulang ke Rahmatullah, hampir tiap sore bertandang ke Balai Wartawan Jalan Taman Apsari 15-17 Surabaya. Di sana ia berkumpul dengan wartawan muda.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Keakraban dengan wartawan muda&lt;span&gt; &lt;/span&gt;itu, memberi gairah Pak Wiwiek bernostalgia. Sehingga pikiran jernihnya berhasil mengungkap tabir di balik peristiwa insiden bendera yang bersejarah itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Hari Selasa, 18 September 1945, siang hingga sore beberapa anak muda Belanda Indo mengibarkan bendera Belanda “merah-putih-biru” di atas gedung hotel Yamato. Mereka itu berada di bawah perlindungan opsir-opsir tentara Sekutu dan Belanda dari kesatuan &lt;em&gt;Allied Command&lt;/em&gt;. Tentara ini datang ke Surabaya bersama rombongan &lt;em&gt;Intercross &lt;/em&gt;atau Palang Merah Internasional.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Beberapa hari sebelumnya terdengar kabar, bahwa anak-anak muda Belanda Indo itu membentuk organisasi bernama “Kipas Hitam”. Tujuannya untuk melawan gerakan kemerdekaan Indonesia yang sudah diproklamasikan 17 Agustus 1945 (sebulan sebelumnya). Selain berlindung di belakang opsir Sekutu dari &lt;em&gt;Alleid Command&lt;/em&gt;, ternyata para opsir itu adalah NICA (&lt;em&gt;Netherland Indies Civil Administration&lt;/em&gt;) yang ingin mencengkeramkan kembali kukunya di Bumi Nusantara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;“Melihat tingkah &lt;em&gt;bule-bule&lt;/em&gt; di hotel yang terlihat jelas dari kantor berita Antara, membuat darah para wartawan mendidih. Ulah tingkah anak-anak muda Belanda itu segera disebarkan kepada kelompok pergerakan. Situasi semakin menghangat dan hiruk pikuk, tatkala melihat bendera Belanda tiga warna berkibar di atas hotel Yamato”, cerita Pak Wiwiek.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Suasana bertambah panas, ketika besoknya pada Hari Rabu, 19 September 1945 pagi, anak-anak muda Belanda Indo itu berkumpul di depan hotel. Beberapa orang yang melihat bendera Belanda berwarna “merah-putih-biru” berkibar di puncak hotel Yamato, tidak hanya sekedar menggerutu, tetapi beberapa di antaranya berteriak-teriak histeris. Mereka minta agar bendera itu diturunkan. Namun anak-anak muda Belanda Indo itu menolak dan dengan congkaknya seolah-olah menantang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Sadar bahwa ulah anak-anak Belanda itu sudah keterlaluan. Suasana di kalangan anak muda Surabaya semakin tidak menentu. Mau bertindak sendiri-sendiri, masih ada keragu-raguan. Belum ada satupun yang mengambil inisiatif, termasuk para wartawan dan pemuda pergerakan yang berada di kantor berita Antara. Namun, beberapa wartawan mendatangi kantor Komite Nasional dan Kantor Keresidenan Surabaya, menanyakan tentang sikap pemerintah dengan adanya bendera Belanda di atas hotel Yamato. Pejabat di dua kantor itu mengaku belum tahu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Residen Sudirman dengan beberapa pejabat, di antaranya walikota Surabaya waktu itu, Radjamin Nasution dan Cak Ruslan (Roeslan Abdulgani, tokoh pemuda waktu itu), bersama beberapa wartawan, termasuk saya dan Sutomo (Bung Tomo), kata Wiwiek Hidayat, segera mendatangi hotel Yamato. Kepada perwakilan Sekutu yang ada di sana, Pak Dirman – panggilan akrab Residen Soedirman – minta&lt;span&gt; &lt;/span&gt;agar bendera Belanda itu diturunkan. Saat rombongan Residen Sudirman masuk ke halaman hotel, di sepanjang Jalan Tunjungan, massa sudah ramai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Kepada perwakilan Sekutu itu dikatakan bahwa Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya, 17 Agustus 1945.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Namun, pihak sekutu menolak menurunkan bendera Belanda itu. Mereka menjawab, dalam Perang Dunia II itu yang menang adalah Sekutu, di dalamnya termasuk Belanda, sehingga tidak ada alasan untuk menurunkan bendera Belanda itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Ploegman Tewas&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Rupanya perwakilan Sekutu itu adalah orang Belanda, bahkan dengan sombongnya ia mengacungkan pistol ke arah Pak Dirman. Saat itu, kata Wiwiek, seorang pemuda menendang pistol yang diacungkan pria kulit putih itu. Terjadi perkelahian dan saling keroyok antara &lt;em&gt;bule-bule&lt;/em&gt; dengan pemuda yang datang menyerbu masuk ke halaman hotel. &lt;em&gt;Tauran&lt;/em&gt; (perkelahian massal) tak dapat dihindarkan. Apa saja yang ada saat itu dipergunakan jadi senjata. Ada kayu, batu, botol minuman dan ada seorang polisi menggunakan pedang. Ada yang mengangkat sepeda dan dilemparkan ke tengah massa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Suasana hirukpikuk ini tambah seru, tatkala massa berdatangan dari arah utara dan selatan. Ada yang naik truk dan juga ada yang dengan trem. Yang naik trem listrik itu adalah orang hukuman yang dilepaskan dari penjara oleh Pemuda DKA (Djawatan Kereta Api – sekarang PT.KAI atau Kereta Api Indonesia). Massa menyerbu masuk sampai ke dalam hotel. Sementara itu di luar beberapa orang membawa tangga dan naik ke atas gedung. Ada enam atau tujuh tangga bambu yang disebut &lt;em&gt;ondo&lt;/em&gt; itu dibawa warga dari kampung Ketandan dan kampung Kebangsren. Dengan &lt;em&gt;ondo&lt;/em&gt; itu, anak-anak muda berjuang memanjat ke atas, hingga akhirnya bendera Belanda itupun diturunkan, namun sertamerta warna biru dari bendera itu dirobek, lalu dwiwarna yang tersisa kembali menjulang di angkasa. Kain warna biru digulung dan dilemparkan ke bawah. Teriakan “Merdeka…!, merdeka! sembari mengepalkan tangan saling bersahutan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Waktu itu, memang di depan hotel ada serdadu &lt;em&gt;Kempetai &lt;/em&gt;(tentara Jepang) yang menjaga dengan senapan dan sangkur terhunus. Namun melihat suasana massa, serdadu Jepang itu hanya diam berbaris, tidak berani melepaskan tembakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Dari insiden ini empat pemuda menjadi korban luka berat. Mereka, adalah Sidik, Hariono, S.Mulyadi dan Mulyono. Mereka dilarikan ke rumah sakit Simpang (sekarang sudah tidak ada, di tempat itu kini berdiri gedung&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Medan Merdeka, Bursa Efek Surabaya (BES), Bank Mandiri dan Plaza Surabaya. Sedangkan korban di pihak Belanda, adalah Ploegman. Ia tewas akibat tusukan senjata tajam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Pekik Merdeka &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Pekik merdeka tiada hentinya berkumandang dalam setiap pertemuan. Ulah anak-anak Indo Belanda yang datang ke Surabaya mempersiapkan kedatangan pasukan Sekutu yang ditugasi melucuti senjata serdadu Jepang, memancing kemarahan warga&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Kota Surabaya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Rakyat, terutama para pemuda menyadari, sejak saat itu kemerdekaan yang diproklamasikan 17 Agustus 1945, belum aman. Gejala pihak Belanda ingin menjajah kembali mulai terlihat. Untuk mempertahankan tegaknya negara kesatuan Republik Indonesia di Surabaya, diperlukan senjata dan alat angkutan untuk bergerak cepat. Itulah sebabnya pemuda dan anak-anak kampung di Surabaya melakukan perampasan terhadap mobil-mobil Jepang yang lewat. Bahkan, mereka tidak segan-segan menempelkan kertas merah-putih di kaca-kaca mobil pembesar Jepang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Tidak jarang, setelah mobil-mobil ditempeli kertas merah-putih, mobil itu diambilalih. Sebelum tentara Sekutu melucuti senjata serdadu Jepang itu, para pemuda Surabaya sudah mendahuluinya. Perampasan senjata juga dilakukan di markas dan gudang-gudang Kempetai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Memanasnya kemelut setelah insiden bendera di Hotel Yamato, mendorong para pimpinan pemuda untuk melakukan koordinasi. Dua hari kemudian, tanggal 21 September, setelah berlangsung rapat KNID (Komita Nasional Indonesia Daerah) di GNI (Gedung Nasional Indonesia) Jalan Bubutan, terbentuklah badan perjuangan yang diberi nama PRI (Pemuda Republik Indonesia).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Dalam rapat PRI disepakati, bahwa PRI adalah organisasi yang tidak memandang perbedaan paham dan golongan. Rapat juga membicarakan berbagai taktik dan cara menghadapi tentara Sekutu yang datang melucuti serdadu Jepang. Roeslan Abdul Gani alias Cak Roes dalam rapat itu mengobarkan semangat juang para pemuda. Cak Roes juga menanamkan rasa permusuhan terhadap tentara Sekutu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Sebagai langkah awal koordinasi, disusun pengurus PRI dengan ketua: Sumarsono dengan dua wakil ketua: Krissubanu dan Koesnadi. Penulis I dan II, masing-masing: Bambang Kaslan dan Roeslan Effendi, serta bendaharanya: Nn.Supijah. Markas PRI berada di &lt;em&gt;Wilhelmina Princesslaan&lt;/em&gt; (sekarang bernama Jalan Tidar) Surabaya. Namun, pada tanggal 4 Oktober 1945, markas PRI ini dipindah ke gedung &lt;em&gt;Simpang Societeit&lt;/em&gt; (sekarang bernama Balai Pemuda) di Jalan Gubernur Suryo 15 Surabaya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Terjadinya pengambilalihan kekuasaan dari tangan penguasaan Jepang di berbagai instansi, di bulan September 1945 itu menambah semangat persatuan di kalangan pemuda. Sampai-sampai begitu semangatnya, di Surabaya muncul poster-poster dengan tulisan: 1 Oktober 1945 akan menjadi “hari pembantaian anjing-anjing Jepang”. Poster itu disebarkan ke mana-mana, kebanyak oleh anggota PRI. Di samping itu, berita dari mulutu ke mulut menjalar ke seantero kota.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Melihat adanya gejala “akan main hakim sendiri”, maka pimpinan PRI&lt;span&gt; &lt;/span&gt;dan tokoh pemerintahan, serta anggota KNID, melakukan rapat. Disusunlah strategi jitu untuk melakukan penyerangan ke markas Kempetai dan markas-markas Angkatan Laut Jepang di Jalan Embong Wungu, markas Angkatan Darat Jepang di Jalan Darmo, Gungungsari, Sawahan dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Penyerangan dikordinasikan oleh PRI bersama BKR (Badan Keamanan Rakyat), serta Polisi Istimewa. Saat terjadi penyerangan 1 Oktober 1945, korban berjatuhan dari ke dua belah pihak. Puluhan orang serdadu Jepang terbunuh dan ratusan orang lainnya digiring masuk penjara dan kamp tahanan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Pihak Jepang di Surabaya akhirnya menyatakan menyerah kepada pimpinan pemerintahan daerah di Surabaya tanggal 2 Oktober 1945. Panglima Divisi tentara Jepang Jawa Timur, Jenderal Iwabe, memerintahkan seluruh serdadu Jepang untuk menyerah kepada BKR, sekaligus menyerahkan seluruh senjata dan gudang-gudangnya. Sebaliknya, pihak Indonesia, menyanggupi untuk menjaga keamanan semua orang Jepang. Penyerahan kekuasaan oleh Jenderal Iwabe ini kemudian diikuti pula oleh Laksamana Laut Shibata, 7 Oktober 1945.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Dekrit&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Setelah berhasil mencapai kemenangan, Pemerintah Keresidenan Surabaya mengeluarkan “Dekrit” atas nama Pemerintah Republik Indonesia yang berisi enam pasal. Maksud dekrit itu untuk menggalang kekuasaan lebih lanjut di bawah pengawasan BKR. KNID juga mengeluarkan seruan agar rakyat mematuhi semua komando dari BKR.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Residen Sudirman kemudian membentuk komite pelaksana untuk membantu pemerintah keresidenan. Anggota komite pelaksana, selain dari KNID, juga masuk pimpinan buruh, Syamsu Harya Udaya dan ketua PRI, Sumarsono.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Markas Besar PRI di Balai Pemuda, benar-benar menjadi pusat kegiatan dan koordinasi antar pemuda Surabaya. PRI dengan cepat berkembang dengan dibentuknya PRI lokal di kampung-kampung. Kemudian diresmikan pula enam cabang, masing-masing: Cabang &lt;em&gt;Kampement&lt;/em&gt; (Jalan Sunan Giri), Sidodadi, Ketabang, Bubutan, Kaliasin dan Darmo. Dari enam cabang itu, kemudian diubah menjadi tiga pusat, yakni: PRI Utara, PRI Tengah dan PRI Selatan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;PRI Surabaya di waktu itu merupakan laskar yang kuat dan popular. Kekuatannya, hampir sama dengan kekuatan TKR di Surabaya. Kegiatan menonjol yang menjadi cacatan sejarah yang dilakukan PRI, antara lain: terlibat langsung dalam peristiwas pembunuhan yang terjadi di kamp tawanan Jepang di Jalan Bubutan (Koblen). Selain itu juga ikut terlibat dalam peristiwa penggeledahan kantor RAPWI (&lt;em&gt;Recovery of Allied Prisoners and War Internees&lt;/em&gt;) di Hotel Yamato, kantor NICA (&lt;em&gt;Nedherlands Indies Civil Administration&lt;/em&gt;), serta beberapa rumah milik orang-orang Eropa di Surabaya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Dari penggeledahan yang dilaksanakan 11 Oktober 1945 itu, ditemukan banyak bukti yang berhubungan dengan rencana penyerangan pihak Sekutu ke Indonesia. Saat penggeledahan itu juga dilakukan penyitaan terhadap alat komunikasi, perta dan dokumen yang merupakan kerja intelejen dan mata-mata. Dari temuan itu, tekad bulat pemuda untuk mempermalukan kedatangan armada Sekutu yang bekal mendarat di Tanjung Perak Surabaya, sudah semakin bulat. Bahkan di dalam kota, kegiatan pemboikotan pasokan makanan untuk orang Eropa, khususnya Belanda Indo.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Tanggal 12 Oktober 1945, merupakan hari bersejarah bagi Bung Tomo (Sutomo) dan kawan-kawannya. Pada hari itu, bertempat di rumah Jalan Biliton No.7 disepakati lahirnya sebuah organisasi bersenjata bernama “Pimpinan Pemberontakan Rakyat Surabaya” (PPRS). Para pelopor pemberontakan harus berani bertanggungjawab sepenuhnya seandainya digempur dan dikalahkan oleh Inggris dan sekutunya. Para pelaku pertemuan itu, dalam buku Laporan Survey Sejarah Kepahlawanan Kota Surabaya, adalah: Sutomo (Bung Tomo), Soemarno, Asmanu, Abdullah, Atmadji, Sudjarwo, Suluh Hangsono dan beberapa pemuda lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Bung Tomo mengatakan, PPRS yang kemudian diubah menjadi BPRI (Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia), adalah organisasi pemuda yang sedikit teratur dan mengambil bagian terpenting dalam peran Surabaya. Organisasi ini tidak mempunyai afiliasi politik yang resmi, tetapi memiliki beberapa stasiun radio dan mengemudikan&lt;span&gt; &lt;/span&gt;beberapa stasiun radio.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Setelah BPRI terbentuk, kegiatan pemuda bersenjata semakin teratur dan terkendali. Kerjasama dengan organisasi pemuda lainnya mulai terbangun. Masing-masing kelompok membagi dan menentukan wailayah operasinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Tidak hanya di darat, kekuatan pemuda mulai bersatu. Setelah Jepang bertekuk lutut kepada Sekutu, para pemuda Indonesia yang berada di kapal, juga melakukan kegiatan. Operasi laut pertama kali dilakukan ke Pulau Nyamukan (&lt;em&gt;Djamuan Riff&lt;/em&gt;) yang terletak beberapa mil dari dermaga Ujung, Surabaya. Dari operasi tanggal 14 Oktober 1945 di laut itu berhasil diperoleh surat perintah menyerah dari &lt;em&gt;Kaigun Saiko Sjikikan&lt;/em&gt; (Komandan Tertinggi Angkatan Laut Jepang di Surabaya), Laksamana Sjibata.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Unsur laut yang terlibat dalam operasi itu antara lain: TKR Laut, MKR dan PHL. Dengan menggunakan kapal perang tipe pemburu kapal selam (&lt;em&gt;Submerine Chaser&lt;/em&gt;) S-115 yang diambilalih dari tangan &lt;em&gt;Kaigun&lt;/em&gt; Jepang, 7 Oktober 1945.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Sebagai komandan kapal diangkat Dento dengan kepala kamar mesin, Kunto serta kepala persenjataan, Gimo. Sebagi pimpinan operasi bertindak Atmadji yang juga pimpinan MKR Surabaya. Dalam operasi itu ikut ula Moch.Afandi, ketua umum PAL (Penataran Angkatan Laut) Gunadi dan beberapa pimpinan TKR Laut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Dalam operasi laut itu, kapal S-115 yeng menggunakan bendera Merah Putih itu, berhasil menggiring 34 buah barkas pendarat (&lt;em&gt;Daihatsu)&lt;/em&gt; dari Pulau Nyamukan yang mengangkut 419 orang tentara laut Jepang. Operasi tanpa pertumpahan darah itu tiba di dermaga Ujung malam hari. Selain menawan ke 419 orang tentara laut Jepang itu, TKR Laut juga menyita 34 barkas pendarat, 217 senapan &lt;em&gt;karabyn&lt;/em&gt;, 22 senapan mesin dan beberapa peti granat, serta amunisi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Peristiwa yang merupakan prestasi besar ini tersebar dengan cepat, berkat siaran radio BPRI dan siaran radio Surabaya yang disampaikan dalam amanat Drg.Moestopo. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Menjelang kedatangan pasukan Inggris dengan bendera Sekutu itu, terjadi berbagai ekses. Setiap warga Belanda dan Indo laki-laki dan remaja usia di atas 16 tahun ditangkapi oleh anggota PRI. Mereka dijemput di asrama dan rumah-rumah dengan menggunakan truk. Dari pagi hingga petang pada tanggal 15 Oktober 1945, sebanyak 3.500 orang dimasukkan ke penjara Kalisosok Surabaya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Gerakan pemuda di Surabaya semakin panas, apalagi dengan terjadinya pertempuran antara pihak Indonesia dengan pihak militer Jepang di Semarang. Peristiwa lima hari 15 sampai 20 Oktober di Jawa Tengah itu membuat se bagian pemuda Surabaya yang “dendam” terhadap perlakuan Jepang sebelumnya berupaya melakukan tindakan balasan. Spanduk dan selebaran yang berasal dari Semarang membuat darah &lt;em&gt;Arek Suroboyo&lt;/em&gt; mendidih. Isinya: “Singkirkan Jepang, sebelum mereka membantai kita di Surabaya!”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Hampir tiap hari di depan penjara Koblen tempat serdadu Jepang ditahan, selalu ramai oleh kerumunan anak muda. Mereka berteriak-teriak agar orang-orang Jepang yang ada di dalam penjara dikeluarkan. Beberapa di antara orang Jepang yang berhasil dikeluarga langsung dieksekusi mati. Para pemimpin pemuda pergerakan bersama TKR dan KNIP berusaha mencegah tindakan main hakim sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Suasana kemudian beralih kepada makin dekatnya jadwal pendaratan tentara Sekutu di Surabaya. Akhirnya, tanggal 25 Oktober 1945, tentara Sekutu yang didominasi tentara Inggris mendarat di Tanjung Perak dengan kekuatan satu brigade. Pasukan yang berjumlah 6.000 orang ini terdiri dari Brigade Infantri 49 dari divisi India ke-23 , di bawah komando Brigadir Jenderal Mallaby.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;Armada kapal yang merapat di dermaga itu itu terdiri dari kapal transport bernama: “&lt;em&gt;Wavenley”, “Mlaika”, “Assidios”, “Floristan”&lt;/em&gt; dan beberapa kapal lagi yang dilindungi oleh kapal perang Inggris. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5213984288985365579-3954536044499798303?l=garuda-khatulistiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/feeds/3954536044499798303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5213984288985365579&amp;postID=3954536044499798303' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/3954536044499798303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/3954536044499798303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/2009/08/insiden-bendera-di-hotel-yamato.html' title='Insiden Bendera di Hotel Yamato Surabaya'/><author><name>pandu rizki alfian</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SLZfkK4VTkI/AAAAAAAAABo/dMnL7Rb0axQ/S220/pandu+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SoY4VxTMY0I/AAAAAAAAAI8/4XJxCh5PwMY/s72-c/kkko.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5213984288985365579.post-4828314652987651209</id><published>2009-07-29T15:08:00.006+07:00</published><updated>2009-07-31T14:44:45.408+07:00</updated><title type='text'>Sejarah Lahirnya Pancasila</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SnKgrFgDWHI/AAAAAAAAAIY/W1IJW0qkn-g/s1600-h/monumen_5.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 394px; height: 266px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SnKgrFgDWHI/AAAAAAAAAIY/W1IJW0qkn-g/s400/monumen_5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364526768223115378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Monumen Pancasila Sakti&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Mari kita telusuri fakta-fakta sejarah tentang kelahiran pancasila. Dalam rapat BPUPKI pada tanggal 1 juni 1945, Bung Karno menyatakan antara lain:”Saya mengakui, pada waktu saya berumur 16 tahun, duduk di bangku sekolah H.B.S. di Surabaya, saya dipengaruhi seorang sosialis yang bernama A. Baars, yang memberi pelajaran kepada saya, – katanya : jangan berpaham kebangsaan, tetapi berpahamlah rasa kemanusiaan seluruh dunia, jangan mempunyai rasa kebangsaan sedikitpun. Itu terjadi pada tahun 1917. akan tetapi pada tahun 1918, alhamdulillah, ada orang lain yang memperingatkan saya, ia adalah Dr. Sun Yat Sen ! Di dalam tulisannya “San Min Cu I” atau “The THREE people’s Principles”, saya mendapatkan pelajaran yang membongkar kosmopolitanisme yang diajarkan oleh A. Baars itu. Dalam hati saya sejak itu tertanamlah rasa kebangsaan, oleh pengaruh“The THREE people’s Principles” itu. Maka oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa menganggap Dr. Sun Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah bahwasanya Bung Karno juga seorang Indonesia yang dengan perasaan hormat dengan sehormat-hormatnya merasa berterima kasih kepada Dr. Sun Yat Sen, -sampai masuk ke liang kubur.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Lebih lanjut ketika membicarakan prinsip keadilan sosial, Bung Karno, sekali lagi menyebutkan pengaruh San Min Cu I karya Dr. Sun Yat Sen:”Prinsip nomor 4 sekarang saya usulkan. Saya didalam tiga hari ini belum mendengarkan prinsip itu, yaitu kesejahteraan, prinsip: tidak ada kemiskinan di dalam Indonesia merdeka. Saya katakan tadi prinsipnya San Min Cu I ialah “Mintsu, Min Chuan , Min Sheng” : Nationalism, democracy, socialism. Maka prinsip kita …..harus …… sociale rechtvaardigheid.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Pada bagian lain dari pidato Bung Karno tersebut, dia menyatakan:”Maka demikian pula jikalau kita mendirikan negara Indonesia merdeka, Paduka tuan ketua, timbullah pertanyaan: Apakah Weltanschaung” kita, untuk mendirikan negara Indonesia merdeka di atasnya?Apakah nasional sosialisme ? ataukah historisch-materialisme ? Apakah San Min Cu I, sebagai dikatakan oleh Dr. Sun Yat Sen ? Di dalam tahun 1912 Sun Yat Sen mendirikan negara Tiongkok merdeka, tapi “Weltanschaung” telah dalam tahun 1885, kalau saya tidak salah, dipikirkan, dirancangkan. Di dalam buku “The THREE people’s Principles” San Min Cu I,-Mintsu, Min Chuan , Min Sheng” : Nationalisme, demokrasi, sosialisme,- telah digunakan oleh Dr. Sun Yat Sen Weltanschaung itu, tapi batu tahun 1912 beliau mendirikan negara baru di atas “Weltanschaung” San Min Cu I itu, yang telah disediakan terlebih dahulu berpuluh-puluh tahun.” (Tujuh Bahan Pokok demokrasi, Dua – R. Bandung, hal. 9-14.)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Pengaruh posmopolitanisme (internasionalisme) kaya A. Baars dan San Min Cu I kaya Dr. Sun Yat Sen yang diterima bung Karno pada tahun 1917 dan 1918 disaat ia menduduki bangku sekolah H.B.S. benar-benar mendalam. Ha ini dapat dibuktikan pada saat Konprensi Partai Indonesia (partindo) di Mataram pada tahun 1933, bung Karno menyampaikan gagasan tentang marhaennisme, yang pengertiannya ialah :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;(a) Sosio – nasionalisme, yang terdiri dari : Internasionalisme, Nasionalisme&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;(b) Sosio – demokrasi, yang tersiri dari : Demokrasi, Keadilan sosial.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Jadi marhaenisme menurut Bung Karno yang dicetuskan pada tahun 1933 di Mataram yaitu : &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Internasionalisme ; Nasionalisme ; Demokrasi : Keadilan sosial. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt; (Endang Saifuddin Anshari MA. Piagam Jakarta, 22 Juni 1945, Pustaka Bandung1981, hql 17-19.)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-weight: bold;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Dan jika kita perhatikan dengan seksama, akan jelas sekali bahwa 4 unsur marhainisme seluruhnya diambil dari Internasionalisme milik A. Baars dan Nasionalisme, Demokrasi serta keadilan sosial (sosialisme) seluruhnya diambil dari San Min Cu I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;milik Dr. Sun Yat Sen. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Sekarang marilah kita membuktikan bahwa pancasila yang dicetuskan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 di depan sidang BPUPKI adalah sama dengan Marheinisme yang disampaikan dalam Konprensi Partindo di Mataram pada tahun 1933, yang itu seluruhnya diambil dari kosmopolitanisme milik A. Baars dan San Min Cu I milik Dr. Sun Yat Sen. Di dalam pidato Bung Karno pada tanggal 1 juni 1945 itu antara lain berbunyi :”Saudara-saudara ! Dasar negara telah saya sebutkan, lima bilangannya. Inikah Panca Dharma ? Bukan !Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar…..Namanya bukan Panca Dharma, tetaoi….saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa…..namanya ialah Pancasila. Sila artinya asas atau dasar dan diatas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi. Kelima sila tadi berurutan sebagai berikut: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;(a)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Kebangsaan Idonesia;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;(b)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Internasionalisme atau peri-kemanusiaan;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;(c)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Mufakat atau domokrasi;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;(d)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Kesejahteraan sosial;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;(e)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Ke-Tuhanan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;(Pidato Bung Karno pada tanggal 1 juni 1945 dimuat dalam “20 tahun Indonesia Merdeka” Dep. Penerangan RI. 1965.)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Kelima sila dari Pancasila Bung Karno ini, kita cocokkan dengan marhaenisme Bung Karno adalah persis sama, Cuma ditambah dengan Ke Tuhanan. Untuk lebih jelasnya baiklah kita susun sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;(a)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Kebangsaan Indonesia berarti sama dengan nasionalisme dalam marhaenisme, juga sama dengan nasionalisme milik San Min Cu I milik Dr. Sun yat Sen, Cuma ditambah dengan kata-kata Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;(b)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Internasionalisme atau peri-kemanusiaan berarti sama dengan internasionalisme dalam marhaenisme, juga sama dengan internasionalisme (kosmopolitanisme) milik A. Baars. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;(c)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Mufakat atau demokrasi berarti sama dengan demokrasi dalam marhaenisme, juga sama dengan demokrasi dalam San Min Cu I milik Dr. Sun Yat Sen;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;(d)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Kesejahteraan sosial berarti sama dengan keadilan sosial dalam marhaenisme, juga berarti sama dengan sosialisme dalam San Min Cu I milik Dr. Sun Yat Sen.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:85%;"&gt;&lt;span&gt;(e)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:85%;"&gt;Ke-Tuhanan yang diambil dari pendapat-pendapat para pemimpin Islam, yang berbicara lebih dahulu dari Bung Karno, di dalam sidang BPUPKI pada tanggal 1 juni 1945.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Dengan cara mencocokkan seperti ini, berarti nampak dengan jelas bahwa Pancasila yang dicetuskan oleh Bung Karno pada tanggal 1 juni 1945, yang merupakan”Rumus Pancasila I”, sehingga dijadikan Hari Lahirnya Pancasila, berasal dari 3 sumber yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;a)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Dari San Min Cu I Dr. Sun Yat Sen (Cina);&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;b)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Dari internasionalisme (kosmopolitanisme A. Baars (Belanda).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;c)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Dari umat Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Jadi Pancasila 1 juni 1945, adalah bersumber dari : (1) Cina; (2) Belanda; dan (3) Islam. Dengan begitu bahwa pendapat yang menyatakan Pancasila itu digali dari bumi Indonesia sendiri atau dari peninggalan nenek moyang adalah sangat keliru dan salah !&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Sebagaimana telah dimaklumi bahwa sebelum sidang pertama BPUPKI itu berakhir, dibentuklah satu panitia kecil untuk :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;a)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: bold; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;"  lang="EN-GB"&gt;Merumuskan kembali Pancasila sebagai dasar negara, berdasarkan pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;b)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Menjadikan dokumen itu sebagai teks untuk memproklamirkan Indonesia merdeka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Dari dalam panitia kecil itu dipilih lagi 9 orang untuk menyelenggarakan tugas itu. Rencana mereka itu disetujui pada tanggal 22 Juni 1945, yang kemudian diberikan nama dengan “Piagam Jakarta”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Piagam Jakarta berbunyi:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri-keadilan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampai kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Atas berkat rahmat Alloh Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan bebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa dan ikut melasanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu hukum Dasar Negara Indonesia yang berdasar kedaulatan rakyat, dengan berdasar kepada : Ke- Tuhanan, dengan menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk – kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indinesia.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-weight: bold;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Jakarta, 22-6-1605.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Ir. SOEKARNO ;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Drs. Mohammad Hatta ;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Mr. A.A Maramis ;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Abikusno Tjokrosujoso ;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Abdul Kahar Muzakir ;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;H.A. Salim ;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Mr. Achmad Subardjo ;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Wachid Hasjim ;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Mr. Muhammad Yamin&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;(Moh. Hatta dkk. Op.cit. hal. 30-32)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Dengan begitu, maka Pancasila menurut Piagam Jakarta 22 Juni 1945, dan ini merupakan Rumus Pancasila II, berbeda dengan Rumus Pancasila I. Lebih jelasnya Rumus Pancasila II ini adalah sebagai berikut ;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;a)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;b)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Kemanusiaan yang adil dan beradab ;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;c)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Persatuan Indonesia ;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;d)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan ;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;e)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Rumus Pancasila II ini atau lebih dikenal dengan Pancasila menurut Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945, baik mengenai sitimatikanya maupun redaksinya sangat berbeda dengan Rumus Pancasila I atau lebih dikenal dengan Pancasila Bung Karno tanggal 1 juni 1945. pada rumus pancasila I, Ke-Tuhanan yang berada pada sila kelima, sedangkan pada Rumus Pancasila II, ke-Tuhanan ada pada sila pertama, ditambah dengan anak kalimat – dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Kemudian pada Rumus Pancasila I, kebangsaan Indonesia yang berada pada sila pertama, redaksinya berubah sama sekali menjadi Persatuan Indonesia pada Rumus Pancasila II, dan tempatnyapun berubah yaitu pada sila ketiga. Demikian juga pada Rumus Pancasila I . Internasionalisme atau peri kemanusiaan, yang berada pada sila kedua, redaksinya berubah menjadi Kemanusiaan yang adil dan beradab. Selanjutnya pada Rumus Pancasila I, Mufakat atau Demokrasi, yang berbeda pada sila ketiga, redaksinya berubah sama sekali pada Rumus Pancasila II, yaitu menjadi Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan menempati sila keempat. Dan juga pada Rumus Pancasila I, kesejahteraan sosial yang berada pada sila keempat, baik redaksinya, maka Pancasila pada Rumus II ini, tentunya mempunyai pengertian yang jauh berbeda dengan Pancasila pada Rumus I.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Rumus Pancasila II ini atau yang lebih populer dengan nama Pancasila menurut Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945, yang dikerjakan oleh panitia 9, maka pada rapat terakhir BPUPKI pada tanggal 17 Juni 1945, secara bulat diterima rumus Pancasila II ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Sehari sesudah proklamasi, yaitu pada tanggal 18 Agustus 1945, terjadilah rapat “Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia” (PPKI). Panitia ini dibentuk sebelum proklamasi dan mulai aktip bekerja mulai tanggal 9 Agustus 1945 dengan beranggotakan 29 orang. Dengan mempergunakan rancangan yang telah dipersiapkan oleh BPUPKI, maka PPKI dapat menyelesiakan acara hari itu, yaittu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;a)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Menetapkan Undang-Undang Dasar ; dan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;b)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Memilih Presidan dan Wakil Presiden dalam waktu rapat selama 3 jam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Dengan demikian terpenuhilah keinginan Bung Karno yang diucapkan pada waktu membuka rapat itu sebagai ketua panitia dengan kata-kata sebagai berikut ; “Tuan-tuan sekalian tentu mengetahui dan mengakui, bahwa kita duduk di dalam suatu zaman yang beralih sebagai kilat cepatnya. Maka berhubungan dengan itu saya minta sekarang kepada tuan-tuan sekalian, supaya kitapun bertindak di dalam sidang ini dengan kecepatan kilat.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Sedangkan mengenai sifat dari Undang-Undang Dasarnya sendiri Bung Karno berkata:”Tuan-tuan tentu mengerti bahwa ini adalah sekedar Undang-Undang Dasar sementara, Undang-Undang Dasar Kilat, bahwa barangkali boleh dikatakan pula, inilah revolutie grodwet. Nanti kita akan membuat undang-Undang Dasar yang lebih sempurna dan lengkap. Harap diingat benar-benar oleh tuan-tuan, agar kita ini harus bisa selesai dengan Undang-Undang Dasar itu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Dalam beberapa menit saja, tanpa ada perdebatan yang substansil disahkan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, dengan beberapa perubahan, khususnya dalam rumus pancasila. (Pranoto Mangkusasmito, Pancasila dan sejarahnya, Lembaga Riset Jakarta, 1972, hal. 9-11.)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Adapun Pembukaan undang-Undang Dasar, yang didalamnya terdapat Rumus Pancasila II, yang disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945, adalah sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in; font-weight: bold;" align="center"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in;" align="center"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;PEMBUKAAN&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in; font-weight: bold;" align="center"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri-keadilan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampai kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Atas berkat Rahmat Alloh Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan bebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melasanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam satu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam&lt;span&gt; &lt;/span&gt;suatu Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasarkan kepada : Ke- Tuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Dengan demikian disahkannya Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945, maka Rumus Pancasila mengalami perubahan lagi, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;a)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;b)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Kemanusiaan yang adil dan beradab ;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;c)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Persatuan Indonesia ;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;d)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan ;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;e)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Perubahan esensial dari Rumus Pancasila II atau Pancasila menurut Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945 dengan Rumus Pancasila III atau Pancasila menurut Pembukaan Undang-Undang Dasar tanggal 18 Agustus 1945, yaitu pada sila pertama “Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya,” diganti dengan “Ke-Tuhanan Yang Maha Esa” . perubahan ini ternyata dikemudian hari menumbuhkan benih pertentangan sikap dan pemikiran yang tak kunjung berhenti sampai hari ini. Sebab umat Islam menganggap bahwa pencoretan anak kalimat pada sila pertama Ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya, oleh PPKI adalah suatu pengkhianatan oleh golongan nasionalis dan kristen. Karena Rumus Pancasila II telah diterima secara bulat oleh BBUPKI pada tanggal 17 Juli 1945. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Selanjutnya melalui aksi militer Belanda ke-I dan ke- II , dan dibentuknya negara-negara bagian oleh Belanda, pemberontakan PKI di Madiun, statemen Roem Royen yang mengembalikan Bung Karno dan kawan-kawannya dari Bangka ke Jogjakarta, sedangkan Presiden darurat RI pada waktu itu ialah Mr. Syafruddin Prawiranegara, sampailah sejarah negara kita kepada konfrensi meja bundar di Den Haag (Nederland). Konfrensi ini berlangsung dari tanggal 23 Agustus 1949 sampai tanggal 2 November 1949. dengan ditandatanganinya “Piagam Persetujuan” antara delegasi Republik Indonesia dan delegasi pertemmuan untuk permusyawaratan federal (B.F.O.) mengenai “Konstitusi Republik Indinesia Serikat” (RIS) di Seyeningen pada tanggal 29 Oktober 1949, maka ikut berubahlah Rumus Pancasila III menjadi Rumus Pancasila IV. Rumus Pancasila IV ini termuat dalam muqadimah Undang-Undang Dasar Republik Indinesia Serikat (RIS), yang bunyinya sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-weight: bold;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in;" align="center"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Mukadimah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in; font-weight: bold;" align="center"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kami bangsa Indonesia semenjak berpuluh-puluh tahun lamanya bersatu padu dalam perjuangan kemerdekaan, dengan senantiasa berhati teguh berniat menduduki hak hidup sebagai bangsa yang merdeka berdaulat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ini dengan berkat dan rahmat Tuhan telah sampailah kepada ringkatan sejarah yang berbahagia dan luhur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Maka demi ini kami menyusun kemerdekaan kami itu dalam satu piagam negara yang berbentuk Republik Federasi berdasarkan pengakuan “Ketuhanan Yang Maha Esa, Peri kemanusiaan, Kebangsaan, Kerakyatan dan keadilan sosial.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Untuk mewujudkan kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian dan kemerdekaan dalam masyarakat dan negara hukum Indonesia Merdeka yang berdaulat sempurna.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Secara jelasnya Rumus Pancasila IV atau pancasila menurut mukadimah Undang-Undang Dasar RIS tanggal 29 Oktober 1949, adalah sebagai berikut;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;a.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;b.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Peri-Kemanusiaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;c.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kebangsaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;d.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kerakyatan dan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;e.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Keadilan sosia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Perubahan yang terjadi antara Rumus Pancasila II dengan Rumus Pancasila IV adalah perubahan redaksional yang sangat banyak, yang sudah barang tentu akan membawa akibat pengertian pancasila itu menjadi berubah pula.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Republik Indinesia Serikat tidak berumur sampai 1 tahun. Pada tanggal 19 Mei 1950 ditanda tangani “Piagam Persetujuan” antara pemerintah RIS dan pemerintah RI. Dan pada tanggal 20 Juli 1950 dalam pernyataan bersama kedua pemerintah dinyatakan, antara lain menyetujui rencana Undang-Undang Dasar sementara negara kesatuan Republik Indonesia seperti yang dilampirkan pada pernyataan bersama”. Pembukaan Undang-Undang Dasar sementara negara kesatuan Repiblik Indonesia seperti yang dilampirkan pada pernyataan bersama. Pembukaan Undang-Undang Dasar sementara 1950, yang didalamnya terdapat rumus Pancasila, adalah sebagai berikut;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; font-weight: bold;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; font-weight: bold;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Mukadimah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Dengan berkat dan rahmat Tuhan tercapailah tingkat sejarah yang berbahagia dan luhur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Maka demi ini kami menyusun kemerdekaan kami itu dalam suatu piagam negara yang berbentuk Republik Kesatuan, berdasarkan pengakuan ketuhanan yang maha esa, peri kemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan dan keadilan sosial, untuk mewujudkan kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian, dan kemerdekaan yang berdaulat sempurna”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Untuk jelasnya Rumus Pancasila di dalam mukadimah Undang-Undang Dasar sementara dapat disusun sebagai berikut;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;a)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;b)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Peri-Kemanusiaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;c)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kebangsaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;d)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kerakyatan dan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;e)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Keadilan sosial.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Rumus Pancasila dalam mukadimah Undang-Undang Dasar sementara adalah merupakan rumus pancasila V. dan ternyata antara Rumus Pancasila IV dan Rumus Pancasila V tidak ada perubahan baik sitimatikanya maupun redaksinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tetapi setelah dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959, yang menyatakan “Pembubaran kostituante dan tidak berlakunya lagi Undang-Undang Dasar 1945”, Rumus Pancasila mengalami perubahan, baik redaksinya maupun pengertiannya secara esensial dan mendasar. Sebab setelah itu Bung Karno merumuskan Pancasila dengan menggunakan “ Teori Perasan” yaitu pancasila itu diperasnya menjadi tri sila ( tiga sila) : sosionasionalisme (yang mencakup kebangsaan Indonesia dan peri kemanusiaan); Sosio demokrasi (yang mencakup demokrasi dan kesejahteraan sosial dan ketuhanan. Trisila ini diperas lagi menjadi Ekasila (satu sila); Ekasila itu tidak lain ialah gotong-royong. Dan gotong royong diwujudkan oleh Bung Karno dalam bentuk nasakom (nasional, agama dan komunis).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lebih jelasnya teori perasan Bung Karno dapat disusun sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pancasila itu diperasnya menjadi tri sila (tiga sila).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Trisila terdiri atas:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;a)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sosionasionalisme &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;b)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sosio &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;c)&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ketuhanan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Trisila diperas menjadi Ekasila &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ekasila yaitu gotong-royong. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Teori perasan Bung Karno ni bukan masalah baru, tetapi itulah hakekat Pancasila yang ia lahirkan pada tanggal 1 Juni 1945; dan hal ini dapat dilihat dari pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945 di depan BPUPKI, yang antara lain berbunyi, “Atau barang kali ada saudara-saudara yang tidak senang adas bilangan itu ? Saya boleh peras sehingga tinggal tiga saja. Saudara Tanya kepada saya apakah perasan tiga perasan itu ? Berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasar-dasarnya Indonesia, Weltanschaung kita. Dua dasar yang pertama, kebangsaan dan internasionalisme; kebangsaan dan peri kemanusiaan, saya peras menjadi satu : itulah yang dahulu saya namakan socio-nationalisme. Dan demokresi yang bukan demokrasi barat, tetapi pilitiek economiche democratie, yaitu pilitieke democratie dengan sociale rechtvaardigheid, demikrasi dengan kesejahteraan saya peraskan pula menjadi satu. Inilah yang dulu saya namakan socio democratie.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tinggal lagi ketuhanan yang menghormati satu sama lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jadi yang asalnya lima itu telah menjadi tiga: socionationalisme, sociodemocratie dan ketuhanan. Kalau tuan senang dengan simbul tiga ambillah yang tiga ini. Tetapui barangkali tidak semua tuan-tuan senang kepada trisila ini, dan minta satu dasar saja ? Baiklah, saya jadikan satu, saya kumpulkan lagi menjadi satu. Apakah yang satu ? ……Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan gotong-royong ! alangkah hebatnya ! negara gotong-royong.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Selain “teori perasan’ Pancasila, Bung Karno menjabarkan dan melengkapi Pancasila itu dengan Manifesto Politik ( Manipol ) dan USDEK ( Undang-Undang Dasar 45, Sosialisme Indonesis, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribaian Indonesia). Hal ini bisa kita jumpai di dalam “Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi”, ynag antara lain menyatakan : “Ada orang menanya : Kepada Manifesto Polotik ? Kan kita sudah mempunyai Pancasila? Manifesto Politik adalan pancaran dari Pancasila; USDEK adalah pemancaran dari pada Pancasila. Manifesto Politik, USDEK dan Pancasila adalah terjalin satu salam lain. Manifesto politik, USDEK dan pancasila tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Jika saya harus mengambil qiyas agama – sekadar qiyas – maka saya katakan : Pancasila adalah semacam Qur’annya dan Manifesto Politik dan USDEK adalah semacam Hadits-haditsnya. Awas saya tidak mengatakan bahwa Pancasila adalah Qur’an dan Manifsesto Politik dan USDEK adalah hadits ! Qur’an dan Hadits shahih merupakan satu kesatuan, – maka pancasila dan Manifesto politik dan USDEK adalah merupakan satu kesatuan. Teori perasan Pancasila yang dilengkapi dengan manifesto Politik dan USDEK adalah merupakan Rumus Pancasila VI. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dengan Naskaom memberi peluang yang besar kepada golongan komunis seperti Partai Komunis Indonesia ( PKI ) untuk memasuki berbagai instansi sipil dan militer. Dominasi komunis di dalam pemerintahan dan berbagai sektor kehidupan, memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan kudeta dan perebutan kekuasaan; meletuslah Gerakan 30 September PKI.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Meletusnya G 30 S / PKI dari kandungan Nasakom, yang membawa runtuhnya rezim Orde Lama, menurut regim Orde baru disebabkan oleh penyelewengan pancasila dari rel yang sebenarnya. Oleh karena itu rezim Orde Baru mencanangkan semboyan “Laksanakan Pancasila dan UUD 45 secara murni dan konsekwen”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menurut Orde baru, khususnya angkatan ’66, bahwa penyelewengan Pancasila oleh rezim orde Lama disebabkan “belum jelasnya filsafat Pancasila dan belum adanya tafsiran yang terperinci”. Pendapat ini bisa dilihat dari kesimpulan “Simposium Kebangkitan Generasi ’66 Menjelajah Tracee baru”, yang diselenggarakan pada tanggal 6 mei 1966, bertempat di Universitas Indonesia; yang isinya antara lain sebagai berikut :&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Hal ini sebagaimana yang tercantum dalam undang-undang dasar ’45 &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;pasal 1 ayat 2 yang berbunyi: “Kedaulatan adalah ditangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Dan juga terdapat dalam pasal 3 yang berbunyi: “MPR menetapkan undang-undang dasar dan garis-garis besar pada haluan negara.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Pasal 20 ayat 1 : “ DPR memegang kekuasaan membentuk undang-undang.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Pasal 22 ayat 2 berbunyi: “Peraturan pemerintah itu harus mendapat persetujuan DPR dan persidangan yang berikut.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-GB" style="font-size:100%;"&gt;Ayat 3 :”Jika tidak mendapatkan persetujuan, maka peraturan tersebut harus dicabut.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5213984288985365579-4828314652987651209?l=garuda-khatulistiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/feeds/4828314652987651209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5213984288985365579&amp;postID=4828314652987651209' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/4828314652987651209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/4828314652987651209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/2009/07/sejarah-lahirnya-pancasila.html' title='Sejarah Lahirnya Pancasila'/><author><name>pandu rizki alfian</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SLZfkK4VTkI/AAAAAAAAABo/dMnL7Rb0axQ/S220/pandu+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SnKgrFgDWHI/AAAAAAAAAIY/W1IJW0qkn-g/s72-c/monumen_5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5213984288985365579.post-2739463692682287345</id><published>2009-03-24T15:03:00.004+07:00</published><updated>2009-03-24T15:07:42.987+07:00</updated><title type='text'>Detik-detik Pembacaan Naskah Proklamasi oleh Ir. Soekarno</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SciUwFhXfaI/AAAAAAAAAGY/CBxR142U9SI/s1600-h/po.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 118px; height: 89px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SciUwFhXfaI/AAAAAAAAAGY/CBxR142U9SI/s400/po.jpeg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316662913947631010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 - 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan di kediaman Soekarno, Jl. Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah Sayuti Melik, Sukarni dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh bu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera namun ia menolak dengan alasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh sebab itu ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut. Seorang pemudi muncul dari belakang membawa nampan berisi bendera Merah Putih (Sang Saka Merah Putih), yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Setelah bendera berkibar, hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sampai saat ini, bendera pusaka tersebut masih disimpan di Museum Tugu Monumen Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah upacara selesai berlangsung, kurang lebih 100 orang anggota Barisan Pelopor yang dipimpin S.Brata datang terburu-buru karena mereka tidak mengetahui perubahan tempat mendadak dari Ikada ke Pegangsaan. Mereka menuntut Soekarno mengulang pembacaan Proklamasi, namun ditolak. Akhirnya Hatta memberikan amanat singkat kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengambil keputusan, mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar (UUD) sebagai dasar negara Republik Indonesia, yang selanjutnya dikenal sebagai UUD 45. Dengan demikian terbentuklah Pemerintahan Negara Kesatuan Indonesia yang berbentuk Republik (NKRI) dengan kedaulatan di tangan rakyat yang dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akan dibentuk kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu Soekarno dan M.Hatta terpilih atas usul dari otto iskandardinata dan persetujuan dari PPKI sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang pertama. Presiden dan wakil presiden akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5213984288985365579-2739463692682287345?l=garuda-khatulistiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/feeds/2739463692682287345/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5213984288985365579&amp;postID=2739463692682287345' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/2739463692682287345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/2739463692682287345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/2009/03/detik-detik-pembacaan-naskah-proklamasi.html' title='Detik-detik Pembacaan Naskah Proklamasi oleh Ir. Soekarno'/><author><name>pandu rizki alfian</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SLZfkK4VTkI/AAAAAAAAABo/dMnL7Rb0axQ/S220/pandu+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SciUwFhXfaI/AAAAAAAAAGY/CBxR142U9SI/s72-c/po.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5213984288985365579.post-4053312243288300326</id><published>2009-03-24T14:59:00.000+07:00</published><updated>2009-03-24T15:00:14.957+07:00</updated><title type='text'>Tiga Serangkai Ahli Waris Revolusi</title><content type='html'>SUASANA rapat Pemuda Indonesia di Bandung itu tiba-tiba mencapai suhu tinggi. Soekarno diinterupsi oleh Suwarni. Ketua Putri Indonesia itu protes karena Soekarno terlalu sering mencampuradukkan bahasa Indonesia, Belanda, dan Sunda dalam ceramahnya. Ia juga gerah karena Bung Besar terlalu menggebu membanggakan Partai Nasional Indonesia—partai yang ia dirikan dan baru seumur jagung. ”Bung, ini bukan tempat buat propaganda PNI,” kata Suwarni ketus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno terkejut. Ia tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu. Dia marah dan balas menyerang Suwarni dalam bahasa Belanda. Melihat kejadian itu, Sutan Sjahrir—pimpinan pertemuan—langsung mengetukkan palu. Dia meminta Soekarno tidak bicara melipir ke mana-mana. Pemuda 18 tahun itu bahkan minta Soekarno tidak bicara kasar kepada perempuan. Ia mengingatkan Soekarno tidak memakai bahasa Belanda. Sudah jadi ketentuan, bila perhimpunan itu bertemu, penggunaan bahasa Indonesia wajib hukumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teguran itu manjur. Setahun sebelum Sumpah Pemuda, pemakaian bahasa Indonesia memang digalakkan. Pada masa itu, banyak pemuda yang belepotan dalam berbahasa Indonesia. Bahasa ini menarik minat karena dinilai bebas dari tradisi feodal. Soekarno, yang usianya lebih tua sembilan tahun dari Sjahrir, menyadari kekeliruannya. Ketua Partai Nasional Indonesia itu minta maaf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian pada akhir 1927 itu berbekas buat Soekarno. Dia tidak pernah lupa sosok Sjahrir. Ia sering datang ke pertemuan Pemuda Indonesia. Sebaliknya, Sjahrir sesekali mengikuti perdebatan di kelompok Soekarno. Pemuda Indonesia dan PNI, kata Soekarno, ”Satu kesatuan yang tak terpisahkan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pertalian keduanya hanya sejenak. Pada Juni 1929, Sjahrir meneruskan studi ke Belanda. Di negeri ini ia bertemu Mohammad Hatta, Ketua Perhimpunan Indonesia. Berkat bimbingan dan dorongan Hatta, Sjahrir masuk Perhimpunan Indonesia. Hatta mendidik Sjahrir, Abdullah Sukur, dan Rusbandi. Enam bulan berselang, Sjahrir menjadi pembicara utama dalam pertemuan organisasi itu. Pada Mei 1930, Sjahrir sudah jadi orang nomor dua di perhimpunan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rudolf Mrazek, dalam bukunya Sjahrir, Politics and Exile in Indonesia, melukiskan bahwa di antara Sjahrir dan Hatta terdapat kesamaan yang kuat. Lahir dari tanah Minang, mereka sama-sama menyerap pengalaman dari sistem pendidikan etis kolonial. Mereka juga sama-sama berutang budi kepada kerabat keluarga yang membantu menyekolahkan hingga ke Belanda. Itu sebabnya di antara keduanya tumbuh rasa saling pengertian yang kuat. ”Sjahrir hormat sekali kepada Hatta,” ucap Rosihan Anwar, wartawan senior. Sebaliknya, Hatta sayang pada Sjahrir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya juga punya pandangan yang sama. Menurut mereka, study club yang didirikan Abdoel Karim Pringgodigdo di Jakarta dan Inoe Perbatasari di Bandung harus mengutamakan pendidikan rakyat. Gerakan perlawanan setelah Soekarno ditangkap ini menamai dirinya ”golongan merdeka”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatta menyarankan ”golongan merdeka” menerbitkan jurnal, yang memiliki misi untuk pendidikan rakyat. Pendidikan, kata Sjahrir, harus menjadi tugas utama pemimpin politik. Keduanya sama-sama ingin berkecimpung dalam pendidikan sepulangnya dari Belanda. Akhir Agustus 1931, ”golongan merdeka” dari berbagai kota melebur menjadi Pendidikan Nasional Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun keterlibatan mereka dengan politik Tanah Air menuai kritik. Mahasiswa Indonesia yang dekat dengan Partai Komunis Belanda menuduh Hatta bertindak di luar ketentuan Perhimpunan. Dalam pertemuan pada November 1931, Hatta dipecat dari organisasi itu. Sjahrir satu-satunya yang menentang keputusan tersebut. Ia pun meninggalkan perhimpunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya lalu berencana pulang ke Tanah Air. Tapi Hatta harus merampungkan sisa studinya. Akhirnya disepakati, Sjahrir pulang lebih dulu pada November 1931. Bila sudah rampung, Hatta menyusul ke Indonesia, Sjahrir kembali ke Belanda melanjutkan kuliahnya. Nyatanya, Sjahrir tidak pernah balik lagi ke Belanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya sibuk memimpin Pendidikan Nasional Indonesia. Mereka ditangkap polisi Belanda pada Februari 1935. Sembilan bulan kemudian dibuang ke Boven Digul. Pada 1936 dikirim ke Banda Naira, dan kembali ke Jawa pada Januari 1942 sebelum Jepang datang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam bulan kemudian, Sjahrir dan Hatta bertemu Soekarno yang baru pulang dari pengasingan di Palembang. Hari itu juga ketiganya rapat di rumah Hatta. Mereka sepakat: Soekarno-Hatta bekerja sama dengan Jepang, dan Sjahrir bersama Persatuan Mahasiswa di Jakarta menyusun perlawanan bawah tanah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan ketiganya terus berlanjut. Sjahrir, sesudah proklamasi, menjadi Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat. Soekarno setuju Sjahrir membentuk kabinet parlementer. Sjahrir diangkat menjadi perdana menteri merangkap Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ibu kota dipindahkan ke Yogyakarta, Sjahrir seminggu sekali naik kereta api menemui Soekarno-Hatta. ”Langkah demi langkah dia laporkan ke Soekarno-Hatta,” kata Rosihan. Soekarno bahkan melindungi Sjahrir saat kabinet pertama hendak digulingkan oleh Persatuan Perjuangan pimpinan Tan Malaka. Hubungan baik itu, kata dia, berlanjut hingga perundingan Linggarjati. Kepemimpinan Sjahrir bertahan hingga tiga kabinet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu ia menjadi penasihat istimewa presiden. Saat Belanda melancarkan aksi militer kedua pada Desember 1948, Soekarno—bersama Agus Salim dan Sjahrir—diasingkan ke Brastagi dan Prapat, Sumatera Utara. Sedangkan Hatta, bersama Menteri Pendidikan Ali Sastroamidjojo dan Sekretaris Negara A.K. Pringgodigdo ditahan di Pulau Bangka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di Prapat inilah, kata Rosihan, Sjahrir merasa kesepian. Sekali waktu Soekarno mandi dan melantunkan lagu One Day When We Were Young cukup keras. Sjahrir merasa terganggu. Dia berteriak, ”Hous je mond (tutup mulutmu).” Soekarno bilang ke Agus Salim, ”Siapa dia, marah-marah dan berani bentak. Saya ini kepala negara”. Sjahrir juga pernah mengkritik Soekarno yang meminta kemeja Arrow kepada pengawal Belanda. ”Kamu kan presiden, jaga gengsi dong,” kata Sjahrir. Soekarno jengkel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan keduanya kian renggang setelah Perdana Menteri Belanda Willem Drees datang ke Jakarta, awal 1949. Dress minta berunding dengan Sjahrir sebagai sesama orang sosialis. Sjahrir memenuhinya. Tetapi pertemuan itu tidak menghasilkan apa-apa. ”Sjahrir menolak mengikuti permintaan Belanda,” kata Rosihan. Tetapi Sjahrir tidak kembali ke Prapat karena diizinkan menetap di Jakarta. Soekarno marah. Ia menganggap Sjahrir mengkhianati perjuangan. ”Kenapa dia tak kembali ke sini? Kalau begitu dia tak setia,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita itu didapat Rosihan dari Mohammad Roem. Roem mendapat cerita itu dari Agus Salim, katanya. Rosihan pernah menanyakan percekcokan itu kepada Soekarno pada awal 1951. Saat itu mereka tengah melihat rumah di Prapat tempat Soekarno, Sjahrir, dan Agus Salim ditahan. ”Betulkah ada ruzie (percekcokan), bung?” Soekarno tidak menjawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak keretakan Sjahrir-Soekarno terjadi awal 1962, saat iring-iringan Presiden di Makassar dilempar bom. Sjahrir ditangkap atas peristiwa itu. Menurut A.H. Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas, Soekarno otak di balik penahanan itu. Surat dikeluarkan Soekarno sebagai Penguasa Perang Tertinggi. Surat itu diteken Menteri Luar Negeri Soebandrio dan Nasution sebagai Menteri Pertahanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kata Nasution, saat surat diteken, nama Sjahrir belum muncul. ”Saya hanya diminta menandatangani blangko kosong,” katanya. Nama-nama tersangka akan ditulis setelah pemeriksaan. Nyatanya, setelah surat diteken, Sjahrir ditangkap di rumahnya pukul empat pagi, 16 Januari 1962. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Des Alwi, anak angkat Sjahrir, seorang wartawan bernama Manopo pernah menemui Nasution. Manopo berpesan agar Soekarno waspada bila bepergian ke Makassar karena Sjahrir dan Mohammad Roem akan membunuhnya. Nasution tidak percaya laporan itu. ”Kamu ngomong begini bisa ditangkap,” Nasution menggertak. Tapi laporan itu, kata Des, sampai ke tangan Soekarno lewat orang-orang komunis. Soekarno percaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatta pernah mengirim surat kepada Soekarno mempertanyakan penahanan itu. Ia mengkritik hukuman penjara yang gaya kolonial. Tuduhan keterlibatan Sjahrir dalam perbuatan teror itu, kata Hatta, tidak masuk akal. Tapi surat itu tidak digubris. ”Bung Karno sudah paranoid,” kata Rosihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu kondisi fisik Sjahrir merosot. Soekarno akhirnya mengizinkannya berobat ke Zurich, Swiss, pertengahan 1965. Ia wafat 9 April 1966. Menurut Des, gelar pahlawan nasional sudah disiapkan satu bulan sebelumnya. Hatta lalu mengatur pemakaman. Ia juga yang berpidato. ”Saya tahu Hatta sedih betul,” kata Rosihan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5213984288985365579-4053312243288300326?l=garuda-khatulistiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/feeds/4053312243288300326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5213984288985365579&amp;postID=4053312243288300326' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/4053312243288300326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/4053312243288300326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/2009/03/tiga-serangkai-ahli-waris-revolusi.html' title='Tiga Serangkai Ahli Waris Revolusi'/><author><name>pandu rizki alfian</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SLZfkK4VTkI/AAAAAAAAABo/dMnL7Rb0axQ/S220/pandu+3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5213984288985365579.post-1281926306964384328</id><published>2009-03-24T14:49:00.002+07:00</published><updated>2009-03-24T14:58:20.292+07:00</updated><title type='text'>Sutan Syahrir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SciSZ9rii5I/AAAAAAAAAGI/2CpC-eebpeM/s1600-h/197px-Sjahrir.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 197px; height: 250px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SciSZ9rii5I/AAAAAAAAAGI/2CpC-eebpeM/s400/197px-Sjahrir.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316660334862437266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sutan Syahrir atau juga dieja sebagai Soetan Syahrir (lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 5 Maret 1909 – wafat di Zürich, Swiss, 9 April 1966 pada umur 57 tahun) adalah seorang politikus dan perdana menteri pertama Indonesia. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia dari 14 November 1945 hingga 20 Juni 1947. Syahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada tahun 1948. Beliau meninggal dalam pengasingan sebagai tawanan politik dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Riwayat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahrir mengenyam sekolah dasar (ELS) dan sekolah menengah (MULO) terbaik di Medan, dan membetahkannya bergaul dengan berbagai buku-buku asing dan ratusan novel Belanda. Malamnya dia mengamen di Hotel de Boer, hotel khusus untuk tamu-tamu kulit putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1926, ia selesai dari MULO, masuk sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung, sekolah termahal di Hindia Belanda saat itu. Di sekolah itu, dia bergabung dalam Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia (Batovis) sebagai sutradara, penulis skenario, dan juga aktor. Hasil mentas itu dia gunakan untuk membiayai sekolah yang ia dirikan, Tjahja Volksuniversiteit, Cahaya Universitas Rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan siswa sekolah menengah (AMS) Bandung, Syahrir menjadi seorang bintang. Syahrir bukanlah tipe siswa yang hanya menyibukkan diri dengan buku-buku pelajaran dan pekerjaan rumah. Ia aktif dalam klub debat di sekolahnya. Syahrir juga berkecimpung dalam aksi pendidikan melek huruf secara gratis bagi anak-anak dari keluarga tak mampu dalam Tjahja Volksuniversiteit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi sosial Syahrir kemudian menjurus jadi politis. Ketika para pemuda masih terikat dalam perhimpunan-perhimpunan kedaerahan, pada 20 Februari 1927, Syahrir termasuk dalam sepuluh orang penggagas pendirian himpunan pemuda nasionalis, Jong Indonesie. Perhimpunan itu kemudian berubah nama jadi Pemuda Indonesia yang menjadi motor penyelenggaraan Kongres Pemuda Indonesia. Kongres monumental yang mencetuskan Sumpah Pemuda pada 1928.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai siswa sekolah menengah, Syahrir sudah dikenal oleh polisi Bandung sebagai pemimpin redaksi majalah himpunan pemuda nasionalis. Dalam kenangan seorang temannya di AMS, Syahrir kerap lari digebah polisi karena membandel membaca koran yang memuat berita pemberontakan PKI 1926; koran yang ditempel pada papan dan selalu dijaga polisi agar tak dibaca para pelajar sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahrir melanjutkan pendidikan ke negeri Belanda di Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam, Leiden. Di sana, Syahrir mendalami sosialisme. Secara sungguh-sungguh ia berkutat dengan teori-teori sosialisme. Ia akrab dengan Salomon Tas, Ketua Klub Mahasiswa Sosial Demokrat, dan istrinya Maria Duchateau, yang kelak dinikahi Syahrir, meski sebentar. (Kelak Syahrir menikah kembali dengan Poppy, kakak tertua dari Soedjatmoko dan Miriam Boediardjo).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan kenangannya, Salomon Tas berkisah perihal Syahrir yang mencari teman-teman radikal, berkelana kian jauh ke kiri, hingga ke kalangan anarkis yang mengharamkan segala hal berbau kapitalisme dengan bertahan hidup secara kolektif –saling berbagi satu sama lain kecuali sikat gigi. Demi lebih mengenal dunia proletar dan organisasi pergerakannya, Syahrir pun bekerja pada Sekretariat Federasi Buruh Transportasi Internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menceburkan diri dalam sosialisme, Syahrir juga aktif dalam Perhimpunan Indonesia (PI) yang ketika itu dipimpin oleh Mohammad Hatta. Di awal 1930, pemerintah Hindia Belanda kian bengis terhadap organisasi pergerakan nasional, dengan aksi razia dan memenjarakan pemimpin pergerakan di tanah air, yang berbuntut pembubaran Partai Nasional Indonesia (PNI) oleh aktivis PNI sendiri. Berita tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan aktivis PI di Belanda. Mereka selalu menyerukan agar pergerakan jangan jadi melempem lantaran pemimpinnya dipenjarakan. Seruan itu mereka sampaikan lewat tulisan. Bersama Hatta, keduanya rajin menulis di Daulat Rakjat, majalah milik Pendidikan Nasional Indonesia, dan memisikan pendidikan rakyat harus menjadi tugas utama pemimpin politik. "Pertama-tama, marilah kita mendidik, yaitu memetakan jalan menuju kemerdekaan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengujung tahun 1931, Syahrir meninggalkan kampusnya untuk kembali ke tanah air dan terjun dalam pergerakan nasional. Syahrir segera bergabung dalam organisasi Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru), yang pada Juni 1932 diketuainya. Pengalaman mencemplungkan diri dalam dunia proletar ia praktekkan di tanah air. Syahrir terjun dalam pergerakan buruh. Ia memuat banyak tulisannya tentang perburuhan dalam Daulat Rakyat. Ia juga kerap berbicara perihal pergerakan buruh dalam forum-forum politik. Mei 1933, Syahrir didaulat menjadi Ketua Kongres Kaum Buruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatta kemudian kembali ke tanah air pada Agustus 1932, segera pula ia memimpin PNI Baru. Bersama Hatta, Syahrir mengemudikan PNI Baru sebagai organisasi pencetak kader-kader pergerakan. Berdasarkan analisis pemerintahan kolonial Belanda, gerakan politik Hatta dan Syahrir dalam PNI Baru justru lebih radikal tinimbang Soekarno dengan PNI-nya yang mengandalkan mobilisasi massa. PNI Baru, menurut polisi kolonial, cukup sebanding dengan organisasi Barat. Meski tanpa aksi massa dan agitasi; secara cerdas, lamban namun pasti, PNI Baru mendidik kader-kader pergerakan yang siap bergerak ke arah tujuan revolusionernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena takut akan potensi revolusioner PNI Baru, pada Februari 1934, pemerintah kolonial Belanda menangkap, memenjarakan, kemudian membuang Syahrir, Hatta, dan beberapa pemimpin PNI Baru ke Boven Digul. Hampir setahun dalam kawasan malaria di Papua itu, Hatta dan Syahrir dipindahkan ke Banda Neira untuk menjalani masa pembuangan selama enam tahun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Masa pendudukan Jepang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Soekarno dan Hatta menjalin kerja sama dengan Jepang, Syahrir membangun jaringan gerakan bawah tanah anti-fasis. Syahrir yakin Jepang tak mungkin memenangkan perang, oleh karena itu, kaum pergerakan mesti menyiapkan diri untuk merebut kemerdekaan di saat yang tepat. Simpul-simpul jaringan gerakan bawah tanah kelompok Syahrir adalah kader-kader PNI Baru yang tetap meneruskan pergerakan dan kader-kader muda yakni para mahasiswa progresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra, seorang tokoh senior pergerakan buruh yang akrab dengan Syahrir, menulis: “Di bawah kepemimpinan Syahrir, kami bergerak di bawah tanah, menyusun kekuatan subjektif, sambil menunggu perkembangan situasi objektif dan tibanya saat-saat psikologis untuk merebut kekuasaan dan kemerdekaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi objektif itu pun makin terang ketika Jepang makin terdesak oleh pasukan Sekutu. Syahrir mengetahui perkembangan Perang Dunia dengan cara sembunyi-sembunyi mendengarkan berita dari stasiun radio luar negeri. Kala itu, semua radio tak bisa menangkap berita luar negeri karena disegel oleh Jepang. Berita-berita tersebut kemudian ia sampaikan ke Hatta. Sembari itu, Syahrir menyiapkan gerakan bawah tanah untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahrir yang didukung para pemuda mendesak Soekarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan pada 15 Agustus karena Jepang sudah menyerah, Syahrir siap dengan massa gerakan bawah tanah untuk melancarkan aksi perebutan kekuasaan sebagai simbol dukungan rakyat. Soekarno dan Hatta yang belum mengetahui berita menyerahnya Jepang, tidak merespon secara positif. Mereka menunggu keterangan dari pihak Jepang yang ada di Indonesia, dan proklamasi itu mesti sesuai prosedur lewat keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk oleh Jepang. Sesuai rencana PPKI, kemerdekaan akan diproklamasikan pada 24 September 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Soekarno dan Hatta tersebut mengecewakan para pemuda, sebab sikap itu berisiko kemerdekaan RI dinilai sebagai hadiah Jepang dan RI adalah bikinan Jepang. Guna mendesak lebih keras, para pemuda pun menculik Soekarno dan Hatta pada 16 Agustus. Akhirnya, Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Masa Revolusi Nasional Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revolusi menciptakan atmosfer amarah dan ketakutan, karena itu sulit untuk berpikir jernih. Sehingga sedikit sekali tokoh yang punya konsep dan langkah strategis meyakinkan guna mengendalikan kecamuk revolusi. Saat itu, ada dua orang dengan pemikirannya yang populer kemudian dianut banyak kalangan pejuang republik: Tan Malaka dan Sutan Syahrir. Dua tokoh pergerakan kemerdekaan yang dinilai steril dari noda kolaborasi dengan Pemerintahan Fasis Jepang, meski kemudian bertentangan jalan dalam memperjuangan kedaulatan republik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa genting itu, Bung Syahrir menulis Perjuangan Kita. Sebuah risalah peta persoalan dalam revolusi Indonesia, sekaligus analisis ekonomi-politik dunia usai Perang Dunia II. Perjungan Kita muncul menyentak kesadaran. Risalah itu ibarat pedoman dan peta guna mengemudikan kapal Republik Indonesia di tengah badai revolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan-tulisan Syahrir dalam Perjuangan Kita, membuatnya tampak berseberangan dan menyerang Soekarno. Jika Soekarno amat terobsesi pada persatuan dan kesatuan, Syahrir justru menulis, "Tiap persatuan hanya akan bersifat taktis, temporer, dan karena itu insidental. Usaha-usaha untuk menyatukan secara paksa, hanya menghasilkan anak banci. Persatuan semacam itu akan terasa sakit, tersesat, dan merusak pergerakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dia mengecam Soekarno. "Nasionalisme yang Soekarno bangun di atas solidaritas hierarkis, feodalistis: sebenarnya adalah fasisme, musuh terbesar kemajuan dunia dan rakyat kita." Dia juga mengejek gaya agitasi massa Soekarno yang menurutnya tak membawa kejernihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan Kita adalah karya terbesar Syahrir, kata Salomon Tas, bersama surat-surat politiknya semasa pembuangan di Boven Digul dan Bandaneira. Manuskrip itu disebut Indonesianis Ben Anderson sebagai, "Satu-satunya usaha untuk menganalisa secara sistematis kekuatan domestik dan internasional yang memperngaruhi Indonesia dan yang memberikan perspektif yang masuk akal bagi gerakan kemerdekaan di masa depan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbukti kemudian, pada November ’45 Syahrir didukung pemuda dan ditunjuk Soekarno menjadi formatur kabinet parlementer. Pada usia 36 tahun, mulailah lakon Syahrir dalam panggung memperjuangkan kedaulatan Republik Indonesia, sebagai Perdana Menteri termuda di dunia, merangkap Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penculikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penculikan Perdana Menteri Sjahrir merupakan peristiwa yang terjadi pada 26 Juni 1946 di Surakarta oleh kelompok oposisi Persatuan Perjuangan yang tidak puas atas diplomasi yang dilakukan oleh pemerintahan Kabinet Sjahrir II dengan pemerintah Belanda. Kelompok ini menginginkan pengakuan kedaulatan penuh, sedangkan kabinet yang berkuasa hanya menuntut pengakuan kedaulatan atas Jawa dan Madura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Persatuan Perjuangan ini dipimpin oleh Mayor Jendral Soedarsono dan 14 pimpinan sipil, di antaranya Tan Malaka dari Partai Komunis Indonesia. Perdana Menteri Sjahrir ditahan di suatu rumah peristirahatan di Paras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Soekarno sangat marah atas aksi penculikan ini dan memerintahkan Polisi Surakarta menangkap para pimpinan kelompok tersebut. Tanggal 1 Juli 1946, ke-14 pimpinan berhasil ditangkap dan dijebloskan ke penjara Wirogunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 2 Juli 1946, tentara Divisi 3 yang dipimpin Mayor Jendral Soedarsono menyerbu penjara Wirogunan dan membebaskan ke 14 pimpinan penculikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Soekarno marah mendengar penyerbuan penjara dan memerintahkan Letnan Kolonel Soeharto, pimpinan tentara di Surakarta, untuk menangkap Mayjen Soedarsono dan pimpinan penculikan. Lt. Kol. Soeharto menolak perintah ini karena dia tidak mau menangkap pimpinan/atasannya sendiri. Dia hanya mau menangkap para pemberontak kalau ada perintah langsung dari Kepala Staf militer RI, Jendral Soedirman. Presiden Soekarno sangat marah atas penolakan ini dan menjuluki Lt. Kol. Soeharto sebagai perwira keras kepala (koppig).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak Let. Kol. Soeharto menjadi Presiden RI Soeharto dan menerbitkan catatan tentang peristiwa pemberontakan ini dalam buku otobiografinya Ucapan, Pikiran dan Tindakan Saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lt. Kol. Soeharto berpura-pura bersimpati pada pemberontakan dan menawarkan perlindungan pada Mayjen Soedarsono dan ke 14 orang pimpinan di markas resimen tentara di Wiyoro. Malam harinya Lt. Kol. Soeharto membujuk Mayjen Soedarsono dan para pimpinan pemberontak untuk menghadap Presiden RI di Istana Presiden di Jogyakarta. Secara rahasia, Lt. Kol. Soeharto juga menghubungi pasukan pengawal Presiden dan memberitahukan rencana kedatangan Mayjen Soedarsono dan pimpinan pemberontak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 3 Juli 1946, Mayjen Soedarsono dan pimpinan pemberontak berhasil dilucuti senjatanya dan ditangkap di dekat Istana Presiden di Yogyakarta oleh pasukan pengawal presiden. Peristiwa ini lalu dikenal sebagai pemberontakan 3 Juli 1946 yang gagal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Diplomasi Syahrir&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian penculikan Syahrir hanya bertugas sebagai Menteri Luar Negeri, tugas sebagai Perdana Menteri diambil alih Presiden Soekarno. Namun pada tanggal 2 Oktober 1946, Presiden menunjuk kembali Syahrir sebagai Perdana Menteri agar dapat melanjutkan Perundingan Linggarjati yang akhirnya ditandatangani pada 15 November 1946.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa Syahrir, Soekarno bisa terbakar dalam lautan api yang telah ia nyalakan. Sebaliknya, sulit dibantah bahwa tanpa Bung Karno, Syahrir tidak berdaya apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahrir mengakui Soekarno-lah pemimpin republik yang diakui rakyat. Soekarno-lah pemersatu bangsa Indonesia. Karena agitasinya yang menggelora, rakyat di bekas teritori Hindia Belanda mendukung revolusi. Kendati demikian, kekuatan raksasa yang sudah dihidupkan Soekarno harus dibendung untuk kemudian diarahkan secara benar, agar energi itu tak meluap dan justru merusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana argumen Bung Hatta bahwa revolusi mesti dikendalikan; tak mungkin revolusi berjalan terlalu lama, revolusi yang mengguncang ‘sendi’ dan ‘pasak’ masyarakat jika tak dikendalikan maka akan meruntuhkan seluruh ‘bangunan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar Republik Indonesia tak runtuh dan perjuangan rakyat tak menampilkan wajah bengis, Syahrir menjalankan siasatnya. Di pemerintahan, sebagai ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), ia menjadi arsitek perubahan Kabinet Presidensil menjadi Kabinet Parlementer yang bertanggung jawab kepada KNIP sebagai lembaga yang punya fungsi legislatif. RI pun menganut sistem multipartai. Tatanan pemerintahan tersebut sesuai dengan arus politik pasca-Perang Dunia II, yakni kemenangan demokrasi atas fasisme. Kepada massa rakyat, Syahrir selalu menyerukan nilai-nilai kemanusiaan dan anti-kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan siasat-siasat tadi, Syahrir menunjukkan kepada dunia internasional bahwa revolusi Republik Indonesia adalah perjuangan suatu bangsa yang beradab dan demokratis di tengah suasana kebangkitan bangsa-bangsa melepaskan diri dari cengkeraman kolonialisme pasca-Perang Dunia II. Pihak Belanda kerap melakukan propaganda bahwa orang-orang di Indonesia merupakan gerombolan yang brutal, suka membunuh, merampok, menculik, dll. Karena itu sah bagi Belanda, melalui NICA, menegakkan tertib sosial sebagaimana kondisi Hindia Belanda sebelum Perang Dunia II. Mematahkan propaganda itu, Syahrir menginisiasi penyelenggaraan pameran kesenian yang kemudian diliput dan dipublikasikan oleh para wartawan luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu cerita perihal sikap konsekuen pribadi Syahrir yang anti-kekerasan. Di pengujung Desember 1946, Perdana Menteri Syahrir dicegat dan ditodong pistol oleh serdadu NICA. Saat serdadu itu menarik pelatuk, pistolnya macet. Karena geram, dipukullah Syahrir dengan gagang pistol. Berita itu kemudian tersebar lewat Radio Republik Indonesia. Mendengar itu, Syahrir dengan mata sembab membiru memberi peringatan keras agar siaran itu dihentikan, sebab bisa berdampak fatal dibunuhnya orang-orang Belanda di kamp-kamp tawanan oleh para pejuang republik, ketika tahu pemimpinnya dipukuli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski jatuh-bangun akibat berbagai tentangan di kalangan bangsa sendiri, Kabinet Sjahrir I, Kabinet Sjahrir II sampai dengan Kabinet Sjahrir III (1945 hingga 1947) konsisten memperjuangkan kedaulatan RI lewat jalur diplomasi. Syahrir tak ingin konyol menghadapi tentara sekutu yang dari segi persenjataan jelas jauh lebih canggih. Diplomasinya kemudian berbuah kemenangan sementara. Inggris sebagai komando tentara sekutu untuk wilayah Asia Tenggara mendesak Belanda untuk duduk berunding dengan pemerintah republik. Secara politik, hal ini berarti secara de facto sekutu mengakui eksistensi pemerintah RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan berliku diplomasi diperkeruh dengan gempuran aksi militer Belanda pada 21 Juli 1947. Aksi Belanda tersebut justru mengantarkan Indonesia ke forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Setelah tidak lagi menjabat Perdana Menteri (Kabinet Sjahrir III), Syahrir diutus menjadi perwakilan Indonesia di PBB. Dengan bantuan Biju Patnaik, Syahrir bersama Agus Salim berangkat ke Lake Success, New York melalui New Delhi dan Kairo untuk menggalang dukungan India dan Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 14 Agustus 1947 Syahrir berpidato di muka sidang Dewan Keamanan PBB. Berhadapan dengan para wakil bangsa-bangsa sedunia, Syahrir mengurai Indonesia sebagai sebuah bangsa yang berabad-abad berperadaban aksara lantas dieksploitasi oleh kaum kolonial. Kemudian, secara piawai Syahrir mematahkan satu per satu argumen yang sudah disampaikan wakil Belanda, Van Kleffens. Dengan itu, Indonesia berhasil merebut kedudukan sebagai sebuah bangsa yang memperjuangan kedaulatannya di gelanggang internasional. PBB pun turut campur, sehingga Belanda gagal mempertahankan upayanya untuk menjadikan pertikaian Indonesia-Belanda sebagai persoalan yang semata-mata urusan dalam negerinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Van Kleffens dianggap gagal membawa kepentingan Belanda dalam sidang Dewan Keamanan PBB. Berbagai kalangan Belanda menilai kegagalan itu sebagai kekalahan seorang diplomat ulung yang berpengalaman di gelanggang internasional dengan seorang diplomat muda dari negeri yang baru saja lahir. Van Kleffens pun ditarik dari posisi sebagai wakil Belanda di PBB menjadi duta besar Belanda di Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahrir populer di kalangan para wartawan yang meliput sidang Dewan Keamanan PBB, terutama wartawan-wartawan yang berada di Indonesia semasa revolusi. Beberapa surat kabar menamakan Syahrir sebagai The Smiling Diplomat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahrir mewakili Indonesia di PBB selama 1 bulan, dalam 2 kali sidang. Pimpinan delegasi Indonesia selanjutnya diwakili oleh Lambertus Nicodemus Palar (L.N.) Palar sampai tahun 1950.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Partai Sosialis Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas memimpin kabinet, Sutan Syahrir diangkat menjadi penasihat Presiden Soekarno sekaligus Duta Besar Keliling. Pada tahun 1948 Syahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI) sebagai partai alternatif selain partai lain yang tumbuh dari gerakan komunis internasional. Meskipun PSI berhaluan kiri dan mendasarkan pada ajaran Marx-Engels, namun ia menentang sistem kenegaraan Uni Soviet. Menurutnya pengertian sosialisme adalah menjunjung tinggi derajat kemanusiaan, dengan mengakui dan menjunjung persamaan derajat tiap manusia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hobi Dirgantara dan Musik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun perawakannya kecil, yang oleh teman-temannya sering dijuluki Si Kancil, Sutan Syahrir adalah salah satu penggemar olah raga dirgantara, pernah menerbangkan pesawat kecil dari Jakarta ke Yogyakarta pada kesempatan kunjungan ke Yogyakarta. Di samping itu juga senang sekali dengan musik klasik, di mana beliau juga bisa memainkan biola.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Akhir hidup&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1955 PSI gagal mengumpulkan suara dalam pemilihan umum pertama di Indonesia. Setelah kasus PRRI dan PSI tahun 1958, hubungan Sutan Syahrir dan Presiden Soekarno memburuk sampai akhirnya PSI dibubarkan tahun 1960. Tahun 1962, Syahrir ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili sampai 1965 sampai menderita stroke. Setelah itu Syahrir diijinkan untuk berobat ke Zürich Swis, salah seorang kawan dekat yang pernah menjabat wakil ketua PSI Sugondo Djojopuspito menghantarkan beliau di Bandara Kemayoran dan Syahrir memeluk Sugondo degan air mata, dan akhirnya meninggal di Swiss pada tanggal 9 April 1966.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5213984288985365579-1281926306964384328?l=garuda-khatulistiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/feeds/1281926306964384328/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5213984288985365579&amp;postID=1281926306964384328' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/1281926306964384328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/1281926306964384328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/2009/03/sutan-syahrir.html' title='Sutan Syahrir'/><author><name>pandu rizki alfian</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SLZfkK4VTkI/AAAAAAAAABo/dMnL7Rb0axQ/S220/pandu+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SciSZ9rii5I/AAAAAAAAAGI/2CpC-eebpeM/s72-c/197px-Sjahrir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5213984288985365579.post-6930844531352842928</id><published>2009-03-24T14:28:00.005+07:00</published><updated>2009-07-12T10:05:29.222+07:00</updated><title type='text'>Multatuli (Eduard Douwes Dekker)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SciOGT2BFdI/AAAAAAAAAF4/M-J_VgjyTiE/s1600-h/180px-Image-Eduard_Douwes_Dekker_-_001.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 180px; height: 259px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SciOGT2BFdI/AAAAAAAAAF4/M-J_VgjyTiE/s400/180px-Image-Eduard_Douwes_Dekker_-_001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316655599168067026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Eduard Douwes Dekker (lahir di Amsterdam, 2 Maret 1820 – wafat di Ingelheim am Rhein, Jerman, 19 Februari 1887 pada umur 66 tahun), lebih dikenal dengan nama pena Multatuli, adalah penulis Belanda yang terkenal dengan Max Havelaar (1860), novel satirisnya yang berisi kritik atas perlakuan buruk para penjajah terhadap orang-orang pribumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eduard memiliki saudara, bernama Jan, yang adalah kakek dari tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, Ernest Douwes Dekker.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Masa kecil&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Eduard dilahirkan di Amsterdam. Ayahnya adalah seorang kapten kapal yang cukup besar dengan penghasilan cukup sehingga keluarganya termasuk keluarga mapan dan berpendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eduard kemudian disekolahkan di sekolah Latin yang nantinya bisa meneruskan jenjang pendidikan ke universitas. Pada awalnya Eduard menempuh pendidikan dengan lancar karena Eduard merupakan murid yang berprestasi dan cukup pandai. Namun lama kelamaan Eduard merasa bosan sehingga prestasinya merosot. Hal ini membuat ayahnya langsung mengeluarkannya dari sekolah dan ia ditempatkan di sebuah kantor dagang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Menjadi pegawai kecil&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bagi Eduard, penempatannya di sebuah kantor dagang membuatnya merasa dijauhkan dari pergaulan dengan kawan-kawannya sesama keluarga berkecukupan; ia bahkan ditempatkan di posisi yang dianggapnya hina sebagai pembantu di sebuah kantor kecil perusahaan tekstil. Di sanalah dirinya merasa bagaimana menjadi seorang miskin dan berada di kalangan bawah masyarakat. Pekerjaan ini dilakukannya selama empat tahun dan meninggalkan kesan yang tidak dilupakannya selama hidupnya. "Dari hidup di kalangan yang memiliki pengaruh kemudian hidup di kalangan bawah masyarakat membuatnya mengetahui bahwa banyak kalangan masyarakat yang tidak memiliki pengaruh dan perlindungan apa-apa", seperti yang diucapkan Paul van 't Veer dalam biografi Multatuli.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ke Hindia Belanda&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eduard Douwes Dekker&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ayahnya pulang dari perjalanannya, dilihatnya perubahan kehidupan dan keadaan dalam diri Eduard. Hal ini melahirkan niat pada diri ayahnya untuk membawanya dalam sebuah perjalanan. Pada saat itu, di Hindia Belanda terdapat kesempatan untuk mencari kekayaan dan jabatan, juga bagi kalangan orang-orang Belanda yang tidak berpendidikan atau berpendidikan rendah. Karena itu, pada tahun 1838 Eduard pergi ke pulau Jawa dan pada 1839 tiba di Batavia sebagai seorang kelasi yang belum berpengalaman di kapal ayahnya. Dengan bantuan dari relasi-relasi ayahnya, tidak berapa lama Eduard memiliki pekerjaan sebagai pegawai negeri (ambtenaar) di kantor Pengawasan Keuangan Batavia. Tiga tahun kemudian dia melamar pekerjaan sebagai ambtenaar pamong praja di Sumatra Barat dan oleh Gubernur Jendral Andreas Victor Michiels ia dikirim ke kota Natal yang saat itu terpencil sebagai seorang kontrolir.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Diberhentikan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan di kota yang terpencil tersebut, bagi Eduard justru lebih menyenangkan. Sebagai ambtenaar pemerintahan sipil yang cukup tinggi di sana, ditambah usianya yang masih cukup muda, ia merasa memiliki kekuasaan yang tinggi. Dalam jabatannya ia mengemban tugas pemerintahan dan pengadilan, dan juga memiliki tugas keuangan dan administrasi. Namun ternyata ia tidak menyukai tugas-tugasnya sehingga kemudian ia meninggalkannya. Atasannya yang kemudian mengadakan pemeriksaan, menemukan kerugian yang besar dalam kas pemerintahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sikapnya yang mengabaikan peringatan-peringatan dari atasannya, serta adanya kerugian kas pemerintahan Eduard pun diberhentikan sementara dari jabatannya oleh Gubernur Sumatra Barat Jendral Michiels. Setahun lamanya ia tinggal di Padang tanpa penghasilan apa-apa. Baru pada September 1844 ia mendapatkan izin untuk pulang ke Batavia. Di sana ia direhabilitasi oleh pemerintah dan mendapatkan "uang tunggu".&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Menikah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu penempatan tugas, Eduard menjalin asmara dengan Everdine van Wijnbergen, gadis turunan bangsawan yang jatuh miskin. Pada bulan April 1846, Eduard yang saat itu telah menjabat sebagai ambtenaar sementara di kantor asisten residen Purwakarta, menikah dengan Everdine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bekerja kembali&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari pengalamannya yang buruk saat bertugas sebelumnya di Natal, Eduard bekerja cukup baik sebagai ambtenaar pemerintah sehingga pada 1846 ia diangkat menjadi pegawai tetap. Pangkatnya kemudian dinaikkan menjadi komis di kantor residen Purworejo. Prestasinya membuatnya diangkat oleh residen Johan George Otto Stuart von Schmidt auf Altenstadt menjadi sekretaris residen menggantikan pejabat sebelumnya. Namun karena Eduard tidak memiliki diploma sebagai syarat ditempatkannya sebagai pejabat tinggi pemerintahan, Eduard tidak mendapatkan kenaikan pangkat yang sesungguhnya. Namun Gubernur Jendral dapat memberikan pengakuan diploma dalam hal-hal yang dianggap istimewa dengan syarat mampu melaksanakan tugas-tugas pemerintahan. Eduard mengajukan permohonan kepada Gubernur Jendral dan akhirnya berhasil memperolehnya karena prestasi kerjanya. Keputusan ini diterima dari atasannya, Residen Purworejo. Kegagalan saat bertugas di Natal dianggap sebagai kesalahan pegawai muda yang dapat dimaafkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan karir selanjutnya, Eduard diangkat menjadi sekretaris residen di Manado akhir April 1849 yang merupakan masa-masa karir terbaiknya. Eduard merasa cocok dengan residen Scherius yang menjadi atasannya sehingga ia mendapat perhatian para pejabat di Bogor di antaranya karena pendapatnya yang progresif mengenai rancangan peraturan guna perubahan dalam sistem hukum kolonial. Karirnya meningkat menjadi asisten residen, yang merupakan karir nomor dua paling tinggi di kalangan ambtenaar Hindia Belanda. Eduard menerima jabatan ini dan ditugasi di Ambon pada Februari 1851.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Benturan dengan Gubernur&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, meskipun telah mendapatkan jabatan yang cukup tinggi di kalangan ambtenaar Hindia Belanda, Eduard merasa tidak cocok dengan Gubernur Maluku yang memiliki kekuasaan tersendiri sehingga membuat ambtenaar-ambtenaar bawahannya tidak dapat menunjukkan inisiatifnya. Eduard akhirnya mengajukan cuti dengan alasan kesehatan sehingga mendapatkan izin cuti ke negeri Belanda. Dan pada hari Natal 1852, dia bersama istrinya tiba di pelabuhan Hellevoetsluis dekat Rotterdam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pindah ke Lebak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama cuti di Belanda, Eduard ternyata tidak dapat mengatur keuangannya dengan baik; hutang menumpuk di sana-sini bahkan ia sering mengalami kekalahan di meja judi. Meskipun telah mengajukan perpanjangan cuti di Belanda, dia dan istrinya akhirnya kembali ke Batavia pada tanggal 10 September 1855. Tidak lama kemudian, Eduard diangkat menjadi asisten residen Lebak di sebelah selatan karesidenan Banten yang bertempat di Rangkasbitung pada Januari 1856. Eduard melaksanakan tugasnya dengan cukup baik dan bertanggung jawab. Namun ternyata, dia menjumpai keadaan di Lebak yang sesungguhnya sangat buruk bahkan lebih buruk daripada berita-berita yang didapatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pemerasan di Lebak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati Lebak yang pada saat itu menurut sistem kolonial Hindia Belanda diangkat menjadi kepala pemerintahan bumiputra dengan sistem hak waris telah memegang kekuasaan selama 30 tahun, ternyata dalam keadaaan kesulitan keuangan yang cukup parah lantaran pengeluaran rumah tangganya lebih besar dari penghasilan yang diperoleh dari jabatannya. Dengan demikian, bupati Lebak hanya bisa mengandalkan pemasukan dari kerja rodi yang diwajibkan kepada penduduk distriknya berdasarkan kebiasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edwuard Douwes Dekker menemukan fakta bahwa kerja rodi yang dibebankan pada rakyat distrik telah melampaui batas bahkan menjumpai praktik-praktik pemerasan yang dilakukan oleh Bupati Lebak dan para pejabatnya dengan meminta hasil bumi dan ternak kepada rakyatnya. Kalaupun membelinya, itupun dengan harga yang terlalu murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum saja satu bulan Eduard Douwes Dekker ditempatkan di Lebak, dia menulis surat kepada atasannya, residen C.P. Brest van Kempen dengan penuh emosi atas kejadian-kejadian di wilayahnya. Eduard meminta agar bupati dan putra-putranya ditahan serta situasi yang tidak beres tersebut diselidiki. Dengan adanya desakan dari Eduard tersebut, timbullah desas-desus bahwa pejabat sebelumnya yang digantikannya meninggal karena diracun. Hal ini membuat Eduard merasa dirinya dan keluarganya terancam. Sebab lainnya adalah adanya berita kunjungan bupati Cianjur ke Lebak, yang ternyata masih keponakan bupati Lebak, yang kemudian membuat Eduard mengambil kesimpulan akan menimbulkan banyak pemerasan kepada rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atasannya, Brest van Kempen sangat terkejut dengan berita yang dikirimkan Eduard sehingga mengadakan pemeriksaan di tempat, namun menolak permintaan Eduard. Dengan demikian Eduard meminta agar perkara tersebut diteruskan kepada Gubernur Jendral A.J. Duymaer van Twist yang terkenal beraliran liberal. Namun, meskipun maksudnya terlaksana, Eduard justru mendapatkan peringatan yang cukup keras. Karena kecewa, Eduard mengajukan permintaan pengunduran diri dan permohonannya dikabulkan oleh atasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kembali ke Eropa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, Eduard kehilangan pekerjaan akibat bentrok dengan atasannya. Usahanya untuk mencari pekerjaan yang lain menemui kegagalan. Bahkan saudaranya yang sukses berbisnis tembakau malah meminjamkan uang untuk pulang ke Eropa untuk bekerja di sana. Istri dan anaknya sementara ditinggalkan di Batavia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Eropa, Eduard bekerja sebagai redaktur sebuah surat kabar di Brusel, Belgia namun tidak lama kemudian dia keluar. Kemudian usahanya untuk mendapatkan pekerjaan sebagai juru bahasa di Konsulat Perancis di Nagasaki juga menemui kegagalan. Usahanya untuk menjadi kaya di meja judi justru membuatnya menjadi semakin melarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mulai mengarang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun cita-cita Eduard yang lain, yaitu menjadi pengarang, berhasil diwujudkannya. Ketika kembali dari Hindia Belanda, dia membawa berbagai manuskrip di antaranya sebuah tulisan naskah sandiwara dan salinan surat-surat ketika dia menjabat sebagai asisten residen di Lebak. Pada bulan September 1859, ketika istrinya didesak untuk mengajukan cerai, Eduard mengurung diri di sebuah kamar hotel di Brussel dan menulis buku Max Havelaar yang kemudian menjadi terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku tersebut diterbitkan pada tahun 1860 dalam versi yang diedit oleh penerbit tanpa sepengetahuannya namun tetap menimbulkan kegemparan di kalangan masyarakat khususnya di kawasan negerinya sendiri. Pada tahun 1875, terbit kembali dengan teks hasil revisinya. Namanya sebagai pengarang telah mendapatkan pengakuan, yang berarti lambat laun Eduard dapat mengharapkan penghasilan dari penerbitan karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menerbitkan novel Max Havelaar, ia menggunakan nama samaran 'Multatuli'. Nama ini berasal dari bahasa Latin dan berarti "'Aku sudah menderita cukup banyak'" atau "'Aku sudah banyak menderita'"; di sini, aku dapat berarti Eduard Douwes Dekker sendiri atau rakyat yang terjajah. Setelah buku ini terjual di seluruh Eropa, terbukalah semua kenyataan kelam di Hindia Belanda, walaupun beberapa kalangan menyebut penggambaran Dekker sebagai berlebih-lebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara tahun 1862 dan 1877, Eduard menerbitkan Ideën (Gagasan-gagasan) yang isinya berupa kumpulan uraian pendapat-pendapatnya mengenai politik, etika dan filsafat, karangan-karangan satir dan impian-impiannya. Sandiwara yang ditulisnya, di antaranya Vortenschool (Sekolah para Raja), dipentaskan dengan sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun kualitas literatur Multatuli diperdebatkan, ia disukai oleh Carel Vosmaer, penyair terkenal Belanda. Ia terus menulis dan menerbitkan buku-buku berjudul Ideen yang terdiri dari tujuh bagian antara tahun 1862 dan 1877, dan juga mengandung novelnya Woutertje Pieterse serta Minnebrieven pada tahun 1861 yang walaupun judulnya tampak tidak berbahaya, isinya adalah satir keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akhir hayat&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 284px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SciQWocwE2I/AAAAAAAAAGA/2Tz3bW_zs7I/s400/200px-Multatuli_statue.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316658078600401762" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Eduard Douwes Dekker merasa bosan tinggal di Belanda. Pada akhir hayatnya, dia tinggal di Jerman bersama seorang anak Jerman yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Eduard Douwes Dekker tinggal di Wiesbaden, Jerman, di mana ia mencoba untuk menulis naskah drama. Salah satu dramanya, Vorstenschool (diterbitkan di 1875 dalam volume Ideën keempat) menyatakan sikapnya yang tidak berpegang pada satu aliran politik, masyarakat atau agama. Selama dua belas tahun akhir hidupnya, Eduard tidaklah mengarang melainkan hanya menulis berbagai surat-surat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eduard Douwes Dekker kemudian pindah ke Ingelheim am Rhein dekat Sungai Rhein sampai akhirnya meninggal 19 Februari 1887.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Multatuli telah mengilhami bukan saja karya sastra di Indonesia, misalnya kelompok Angkatan Pujangga Baru, namun ia telah menggubah semangat kebangsaan di Indonesia. Semangat kebangsaan ini bukan saja pemberontakan terhadap sistem kolonialisme dan eksploitasi ekonomi Hindia Belanda (misal tanam paksa) melainkan juga kepada adat, kekuasaan dan feodalisme yang tak ada habisnya menghisap rakyat jelata. Bila Multatuli dalam Max Havelaar dapat dikatakan telah mempersonifikasikan dirinya sebagai Max yang idealis dan akhirnya frustrasi, Muhammad Yamin lebih berfokus pada si kaum terjajah, misalnya dalam puisinya yang berjudul Hikajat Saidjah dan Adinda Dalam sisi filosofis frustrasi yang dihadapi Max serta Saidjah dan Adinda adalah sama pada hakekatnya; keduanya putus asa dan terbelenggu dalam rantai sistem yang hanya bisa terputuskan melalui revolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5213984288985365579-6930844531352842928?l=garuda-khatulistiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/feeds/6930844531352842928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5213984288985365579&amp;postID=6930844531352842928' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/6930844531352842928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/6930844531352842928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/2009/03/multatuli-eduard-douwes-dekker.html' title='Multatuli (Eduard Douwes Dekker)'/><author><name>pandu rizki alfian</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SLZfkK4VTkI/AAAAAAAAABo/dMnL7Rb0axQ/S220/pandu+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SciOGT2BFdI/AAAAAAAAAF4/M-J_VgjyTiE/s72-c/180px-Image-Eduard_Douwes_Dekker_-_001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5213984288985365579.post-7185779571462118775</id><published>2009-03-24T14:14:00.001+07:00</published><updated>2009-03-24T14:16:50.714+07:00</updated><title type='text'>Ki Hajar Dewantara (1889-1959)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SciIzlBBmWI/AAAAAAAAAFw/vBWXWEYkuMY/s1600-h/ki_hajar_dewantara_2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 145px; height: 208px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SciIzlBBmWI/AAAAAAAAAFw/vBWXWEYkuMY/s400/ki_hajar_dewantara_2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316649779801987426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bapak Pendidikan Nasional&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pendiri Taman Siswa ini adalah Bapak Pendidikan Nasional. Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya yang terkenal ialah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan). Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 28 April 1959 dan dimakamkan di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsanya. Ia menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Pada tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berusaha mendaftarkan organisasi ini untuk memperoleh status badan hukum pada pemerintah kolonial Belanda. Tetapi pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg berusaha menghalangi kehadiran partai ini dengan menolak pendaftaran itu pada tanggal 11 Maret 1913. Alasan penolakannya adalah karena organisasi ini dianggap dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan menggerakan kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian setelah ditolaknya pendaftaran status badan hukum Indische Partij ia pun ikut membentuk Komite Bumipoetra pada November 1913. Komite itu sekaligus sebagai komite tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda. Komite Boemipoetra itu melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan rencana perayaan itu, ia pun mengkritik lewat tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Tulisan Seandainya Aku Seorang Belanda yang dimuat dalam surat kabar de Expres milik dr. Douwes Dekker itu antara lain berbunyi: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat karangannya itu, pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan, berupa hukuman internering (hukum buang) yaitu sebuah hukuman dengan menunjuk sebuah tempat tinggal yang boleh bagi seseorang untuk bertempat tinggal. Ia pun dihukum buang ke Pulau Bangka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo merasakan rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil. Mereka pun menerbitkan tulisan yang bernada membela Soewardi. Tetapi pihak Belanda menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memusuhi dan memberontak pada pemerinah kolonial. Akibatnya keduanya juga terkena hukuman internering. Douwes Dekker dibuang di Kupang dan Cipto Mangoenkoesoemo dibuang ke pulau Banda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun mereka menghendaki dibuang ke Negeri Belanda karena di sana mereka bisa memperlajari banyak hal dari pada didaerah terpencil. Akhirnya mereka diijinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan itu dipergunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte.&lt;br /&gt;Kemudian ia kembali ke tanah air di tahun 1918. Di tanah air ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pulang dari pengasingan, bersama rekan-rekan seperjuangannya, ia pun mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit rintangan yang dihadapi dalam membina Taman Siswa. Pemerintah kolonial Belanda berupaya merintanginya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Tetapi dengan kegigihan memperjuangkan haknya, sehingga ordonansi itu kemudian dicabut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah keseriusannya mencurahkan perhatian dalam dunia pendidikan di Tamansiswa, ia juga tetap rajin menulis. Namun tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Tulisannya berjumlah ratusan buah. Melalui tulisan-tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, pada zaman Pendudukan Jepang, kegiatan di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hajar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah zaman kemedekaan, Ki hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan Nasional) yang tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, ia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian oleh pihak penerus perguruan Taman Siswa, didirikan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta, untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Dalam museum ini terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar sebagai pendiri Tamansiswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hadjar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa ini perlu mewarisi buah pemikirannya tentang tujuan pendidikan yaitu memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya, serta harus didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5213984288985365579-7185779571462118775?l=garuda-khatulistiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/feeds/7185779571462118775/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5213984288985365579&amp;postID=7185779571462118775' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/7185779571462118775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/7185779571462118775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/2009/03/ki-hajar-dewantara-1889-1959.html' title='Ki Hajar Dewantara (1889-1959)'/><author><name>pandu rizki alfian</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SLZfkK4VTkI/AAAAAAAAABo/dMnL7Rb0axQ/S220/pandu+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SciIzlBBmWI/AAAAAAAAAFw/vBWXWEYkuMY/s72-c/ki_hajar_dewantara_2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5213984288985365579.post-1266553253334436356</id><published>2009-03-24T14:09:00.001+07:00</published><updated>2009-03-24T14:12:46.670+07:00</updated><title type='text'>GERWANI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SciHxidnNDI/AAAAAAAAAFo/tAOKYJr1sgI/s1600-h/gwi.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 100px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SciHxidnNDI/AAAAAAAAAFo/tAOKYJr1sgI/s400/gwi.jpeg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316648645245219890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) didirikan pada 1954, sedang cikal bakalnya sudah berdiri pada 1950. Organisasi ini sangat aktif sampai tragedi 1965, terutama di kalangan rakyat kecil dari perkotaan sampai pedesaan. Para pemimpin Gerwani terdiri dari kaum intelektual cerdik pandai maupun kaum aktivis buruh dan tani. Mereka telah menghimpun kaum perempuan untuk berjuang bersama kaum laki-laki merebut hak-hak sosial politiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang pendidikan mereka telah mendirikan sekolah Taman Kanak-kanak, utamanya untuk kalangan tak berpunya dengan bayaran kecil maupun gratis di seluruh pelosok negeri. Gerakan ini juga giat mendirikan tempat penitipan anak-anak bagi ibu pekerja dengan bayaran ringan maupun gratis. Gerwani merupakan organisasi kaum perempuan paling luas menjangkau seluruh pelosok Jawa khususnya. Mereka memberikan pendidikin kesadaran akan hak-hak perempuan termasuk hak-hak politik dan kesadaran politik. Mereka aktif juga dalam kesenian, kursus masak-memasak, pemeliharaan bayi dan anak, kesehatan perempuan dan anak-anak. Pendeknya organisasi ini telah melakukan pemberdayaan perempuan di seluruh kalangan, utamanya kaum buruh dan tani serta kaum pinggiran, sesuai dengan cita-cita Ibu Kartini. Gerwani ini pula yang menjadi primadona sasaran fitnah keji rezim militer Orba dengan segala macam dongeng horornya. (Lihat Lubang Buaya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama propaganda hitam Orba pada 1965 dimulai dengan menyerang Gerwani habis-habisan sebagai bagian dari serangan terhadap PKI. Rusaknya nama dan porak porandanya organisasi perempuan ini berarti rusak dan lumpuhnya separo organisasi kiri Indonesia. Setelah itu dilakukan serangan fisik terhadap PKI dan seluruh organnya sebagai bagian penumpasan lebih lanjut pada 1965/1966. Tidak aneh jika kekejaman terhadap tapol perempuan anggota Gerwani maupun yang didakwa Gerwani dilakukan dengan amat kejamnya, sering lebih mengerikan karena harkat perempuannya. Seperti disebutkan dalam studi Dr Saskia Eleonora Wieringa, mungkin tak ada rekayasa lebih berhasil untuk menanamkan kebencian masyarakat daripada pencitraan Gerwani sebagai gerakan perempuan kiri yang dimanipulasi sebagai “pelacur bejat moral”. Kampanye ini benar-benar efektif dengan memasuki dimensi moral religiositas manusia Jawa, khususnya kaum adat dan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum perempuan tidak hanya mengalami penderitaan karena diciduk, ditahan, dipenjarakan, dibuang, disiksa, tetapi juga ditelanjangi dan diperkosa bergiliran dan dilecehkan martabat kemanusiaannya, dihancurkan rumahtangganya, pendeknya mereka mengalami penderitaan luar biasa lahir dan batin. Perkosaan telah menjadi kecenderungan umum para petugas keamanan ketika berhadapan dengan tapol perempuan. Sering pelecehan seksual dan perkosaan terhadap tapol perempuan menyebabkan kehamilan dan yang bersangkutan melahirkan di tempat tahanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penderitaan itu menjadi lebih lengkap lagi karena mereka melihat kehancuran keluarga dan nasib anak-anaknya, terpisah-pisah di tempat yang berbeda-beda dengan kondisi terpuruk yang berbeda-beda pula dengan perlakuan buruk negara dan masyarakat yang diprovokasi. Tak jarang para ibu ini telah kehilangan jejak anak-anaknya selama bertahun-tahun setelah dibebaskan dari penjara, bahkan sebagian sampai saat ini. Tak jarang pula setelah orangtua mereka dibebaskan, anak-anak yang berkumpul kembali dengan orangtuanya, terutama dengan ibunya, anak-anak memusuhi dirinya karena merasa menjadi korban perbuatan ibunya, suatu penilaian amat tidak adil. Itulah salah satu buah indoktrinasi menyesatkan rezim Orba selama bertahun-tahun yang sangat merusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami seorang perempuan kembang desa di Purwodadi yang anggota BTI ditangkap pada November 1965, kemudian dibuang ke Pulau Buru. Setiap malam sang isteri kembang desa ini digilir diperkosa oleh pamong desa setempat, tentara, pentolan ormas agama dan nasionalis. Bahkan suatu kali datang seorang tokoh penjagal kaum komunis yang ketika malam datang menidurinya dengan pakaian berlumuran darah dan kelewang yang besimbah darah pula. Ini bukan dongeng horor model Lubang Buaya, tetapi sejarah horor, sejarah hitam legam kaum militer Orba sebagai panutannya yang telah menciptakan kondisi dan konsep kebuasan tersebut. (Baca buku John Roosa cs [ed], Tahun yang Tak Pernah Berakhir, Elsam, Jakarta, 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh nama baik Gerwani yang telah mengabdikan dirinya untuk Ibu Pertiwi dan rakyat kecil umumnya itu, sebagai kelanjutan cita-cita Ibu Kartini telah dinodai dan dirusak habis-habisan dengan fitnah jahat tiada tara. Dengan upaya bersama semua pihak yang peduli, terlebih lagi kaum sejarawan dan aktivis perempuan, hari depan negeri ini akan memberikan tempat yang layak bagi Gerwani dalam sejarah bangsa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5213984288985365579-1266553253334436356?l=garuda-khatulistiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/feeds/1266553253334436356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5213984288985365579&amp;postID=1266553253334436356' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/1266553253334436356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/1266553253334436356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/2009/03/gerwani.html' title='GERWANI'/><author><name>pandu rizki alfian</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SLZfkK4VTkI/AAAAAAAAABo/dMnL7Rb0axQ/S220/pandu+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SciHxidnNDI/AAAAAAAAAFo/tAOKYJr1sgI/s72-c/gwi.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5213984288985365579.post-1624662998505366607</id><published>2009-03-24T14:06:00.001+07:00</published><updated>2009-03-24T14:08:49.043+07:00</updated><title type='text'>Raden Ajeng Kartini (1879-1904)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SciG8FITqCI/AAAAAAAAAFg/qzBgq1f4AFU/s1600-h/kartini_ra_1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 145px; height: 190px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SciG8FITqCI/AAAAAAAAAFg/qzBgq1f4AFU/s400/kartini_ra_1.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316647726838163490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pejuang Kemajuan Wanita&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Door Duistermis tox Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang, itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku itu menjadi pedorong semangat para wanita Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya. Perjuangan Kartini tidaklah hanya tertulis di atas kertas tapi dibuktikan dengan mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di Jepara dan Rembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya dari puteri seorang Bupati Jepara ini telah membuka penglihatan kaumnya di berbagai daerah lainnya. Sejak itu sekolah-sekolah wanita lahir dan bertumbuh di berbagai pelosok negeri. Wanita Indonesia pun telah lahir menjadi manusia seutuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu, Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879, ini sebenarnya sangat menginginkan bisa memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, namun sebagaimana kebiasaan saat itu dia pun tidak diizinkan oleh orang tuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya dimana setelah seorang wanita menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasakan hambatan demikian, Kartini remaja yang banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar serta gemar membaca buku khususnya buku-buku mengenai kemajuan wanita seperti karya-karya Multatuli "Max Havelaar" dan karya tokoh-tokoh pejuang wanita di Eropa, mulai menyadari betapa tertinggalnya wanita sebangsanya bila dibandingkan dengan wanita bangsa lain terutama wanita Eropa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia merasakan sendiri bagaimana ia hanya diperbolehkan sekolah sampai tingkat sekolah dasar saja padahal dirinya adalah anak seorang Bupati. Hatinya merasa sedih melihat kaumnya dari anak keluarga biasa yang tidak pernah disekolahkan sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, dia pun berkeinginan dan bertekad untuk memajukan wanita bangsanya, Indonesia. Dan langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui pendidikan. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-cuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan demi cita-cita mulianya itu, dia sendiri berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya, namun keinginan tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orangtuanya. Guna mencegah kepergiannya tersebut, orangtuanya pun memaksanya menikah pada saat itu dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai rintangan tidak menyurutkan semangatnya, bahkan pernikahan sekalipun. Setelah menikah, dia masih mendirikan sekolah di Rembang di samping sekolah di Jepara yang sudah didirikannya sebelum menikah. Apa yang dilakukannya dengan sekolah itu kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di tempat masing-masing seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang hidupnya, Kartini sangat senang berteman. Dia mempunyai banyak teman baik di dalam negeri maupun di Eropa khususnya dari negeri Belanda, bangsa yang sedang menjajah Indonesia saat itu. Kepada para sahabatnya, dia sering mencurahkan isi hatinya tentang keinginannya memajukan wanita negerinya. Kepada teman-temannya yang orang Belanda dia sering menulis surat yang mengungkapkan cita-citanya tersebut, tentang adanya persamaan hak kaum wanita dan pria. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah meninggalnya Kartini, surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Apa yang terdapat dalam buku itu sangat berpengaruh besar dalam mendorong kemajuan wanita Indonesia karena isi tulisan tersebut telah menjadi sumber motivasi perjuangan bagi kaum wanita Indonesia di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sudah dilakukan RA Kartini sangatlah besar pengaruhnya kepada kebangkitan bangsa ini. Mungkin akan lebih besar dan lebih banyak lagi yang akan dilakukannya seandainya Allah memberikan usia yang panjang kepadanya. Namun Allah menghendaki lain, ia meninggal dunia di usia muda, usia 25 tahun, yakni pada tanggal 17 September 1904, ketika melahirkan putra pertamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini, penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar agak diperdebatkan. Dengan berbagai argumentasi, masing-masing pihak memberikan pendapat masing-masing. Masyarakat yang tidak begitu menyetujui, ada yang hanya tidak merayakan Hari Kartini namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya. Namun yang lebih ekstrim mengatakan, masih ada pahlawan wanita lain yang lebih hebat daripada RA Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah dalam skop nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun Sumpah Pemuda belum dicetuskan waktu itu, tapi pikiran-pikirannya tidak terbatas pada daerah kelahiranya atau tanah Jawa saja. Kartini sudah mencapai kedewasaan berpikir nasional sehingga nasionalismenya sudah seperti yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda 1928. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari pro kontra tersebut, dalam sejarah bangsa ini kita banyak mengenal nama-nama pahlawan wanita kita seperti Cut Nya’ Dhien, Cut Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan, Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berjuang di daerah, pada waktu, dan dengan cara yang berbeda. Ada yang berjuang di Aceh, Jawa, Maluku, Menado dan lainnya. Ada yang berjuang pada zaman penjajahan Belanda, pada zaman penjajahan Jepang, atau setelah kemerdekaan. Ada yang berjuang dengan mengangkat senjata, ada yang melalui pendidikan, ada yang melalui organisasi maupun cara lainnya. Mereka semua adalah pejuang-pejuang bangsa, pahlawan-pahlawan bangsa yang patut kita hormati dan teladani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu semua adalah sisa-sisa dari kebiasaan lama yang oleh sebagian orang baik oleh pria yang tidak rela melepaskan sifat otoriternya maupun oleh sebagian wanita itu sendiri yang belum berani melawan kebiasaan lama. Namun kesadaran telah lama ditanamkan kartini, sekarang adalah masa pembinaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5213984288985365579-1624662998505366607?l=garuda-khatulistiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/feeds/1624662998505366607/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5213984288985365579&amp;postID=1624662998505366607' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/1624662998505366607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/1624662998505366607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/2009/03/raden-ajeng-kartini-1879-1904.html' title='Raden Ajeng Kartini (1879-1904)'/><author><name>pandu rizki alfian</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SLZfkK4VTkI/AAAAAAAAABo/dMnL7Rb0axQ/S220/pandu+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SciG8FITqCI/AAAAAAAAAFg/qzBgq1f4AFU/s72-c/kartini_ra_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5213984288985365579.post-2002470470656635731</id><published>2009-03-24T13:36:00.002+07:00</published><updated>2009-03-24T14:03:11.099+07:00</updated><title type='text'>Sekolah Taman Siswa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SciFl2fFIRI/AAAAAAAAAFY/r_CuHdMncZ8/s1600-h/images.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 91px; height: 89px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SciFl2fFIRI/AAAAAAAAAFY/r_CuHdMncZ8/s400/images.jpeg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316646245438398738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Taman Siswa adalah sekolah yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada tanggal 3 Juli tahun 1922 di Yogyakarta (Taman berarti tempat bermain dan tempat belajar, Siswa mempunyai arti murid). Pada waktu pertama kali didirikan, sekolah ini diberi nama "National Onderwijs Institut Taman Siswa", dan direalisasikan bersama-sama dengan teman-teman beliau di paguyuban Sloso Kliwonan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman Siswa ini berpusat di Ibu Pawiyatan (Majelis Luhur) di Jalan Taman Siswa, Yogyakarta, dan mempunyai sekolah cabang di banyak kota (129 cabang) di seluruh Indonesia sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip dasar dalam pendidikan Taman Siswa yang sudah tidak asing di telinga kita adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan kita memberi contoh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ing Madya Mangun Karso (di tengah membangun prakarsa dan bekerja sama)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tut Wuri Handayani (di belakang memberi daya-semangat dan dorongan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga prinsip pendidikan ini sampai sekarang masih terus menjadi panduan dan pedoman dalam dunia pendidikan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama masing-masing tingkatan dalam sekolah Taman Siswa adalah:&lt;br /&gt;Taman Indria atau Taman kanak-kanak (TK)&lt;br /&gt;Taman Muda atau Sekolah Dasar (SD)&lt;br /&gt;Taman Dewasa atau Sekolah Menegah Pertama (SMP)&lt;br /&gt;Taman Madya atau Sekolah Menengah Atas (SMA)&lt;br /&gt;Taman Guru atau Sarjana Wiyata atau (Universitas).&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Ketika menyebut Taman Siswa, kita membicarakan tonggak sejarah  partisipasi rakyat/pribumi mengelola pendidikan dan pengajaran sendiri di luar hegemoni penjajah Belanda dan mengajarkan di dalamnya semangat/nilai perjuangan kemerdekaan. Pada masa Kejayaannya, Taman Siswa pernah menjadi pusat keunggulan  yang berkembang dan tumbuh dengan pesat di Jawa dan di Sumatera Timur, sehingga membuat Belanda harus mengeluarkan ordonansi sekolah liar (wilde schoolen ordonantie) pada Taman Siswa ini. Di dalam konteks ini, Ketika menyebut Taman Siswa, kita tak akan lupa dengan sosok pendirinya, Suwardi Suryaningrat yang biasa kita kenal dengan Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan Indonesia serta menteri Pendidikan Indonesia pertama itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan sekarang. Apakah sejarah keunggulan itu masih bisa dijemput? Dirjen Dikti, Fasli Jalal, dalam kunjungannya ke Taman Siswa di Surabaya pada 01/03/08, mencoba membangkitkan semangat segenap keluarga besar Taman Siswa untuk kembali menjadi pusat keunggulan dan percontohan sebagaimana telah pernah terukir dalam tinta emas sejarah pendidikan Indonesia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Saya mengikuti perkembangan Taman Siswa ini. Kita punya akar. Biasanya organisasi yang punya sejarah, dia lebih muda untuk kembali ke keunggulannya. Kembali dia bersinar” kata Dirjen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah dirjen menawarkan kepada segenap keluarga Taman Siswa untuk melakukan analisa diri dan memetakan kondisi sekolah. Dari analisa itu, nanti kata dirjen akan kelihatan apa  tantangan sekolah kita. Dalam waktu dekat apa yang bisa dilakukan sesuai dengan prioritas-prioritas yang telah dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemetaan itu, setelah ditulis, dikompilasi dan dicetak  dengan baik dalam bentuk proposal, kata Dirjen, dibagikan ke alumni, perusahaan-perusahan, pemerintah daerah dan pusat. Pemetaan dan kemungkinan yang kita tawarkan ini menjadi perantara bagi orang-orang yang ingin membantu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minimal kata Dirjen dengan pemetaan ini nanti kita sudah memikirkan diri kita. Bagaimana keadaan kita saat ini. Mau kemana kita. Apa yang kita perlukan untuk mencapai kondisi kita yang kita cita-citakan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirjen juga menganjurkan Taman Siswa untuk memanfaatkan fasilitas-fasilitas pendidikan di Jawa Timur. Misalnya di Jawa Timur ada LPMP. “berapa dari ibu-ibu/bapak-bapak yang sudah memanfaatkan fasilitas LPMP. Bisakah LPMP membuat paket khusus untuk Taman Siswa. Apa yang diperlukan. Apakah kita perlu datang ke LPMP, menginap beberapa hari. Di sana kita jabarkan apa yang diperlukan oleh guru untuk meningkatkan kapasitasnya. Kalau terlalu jauh mungkin kita berkumpul di suatu kota dan di situ diadakan pelatihan” kata Dirjen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini juga banyak sekali perguruan-perguruan tinggi terbaik, tambah Dirjen. Misalnya ada ITS dan Politeknik yang mahasiswanya ada yang mendapatkan beasiswa ke Jerman untuk studi satu tahun terakhir. &lt;br /&gt;Kata dirjen ini baru mimpi, tapi kalau tidak kita rencanakan dari sekarang, tidak akan pernah kesampaian. Mari bangkit lagi Taman Siswa melanjutkan cita-cita Ki Hajar Dewantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5213984288985365579-2002470470656635731?l=garuda-khatulistiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/feeds/2002470470656635731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5213984288985365579&amp;postID=2002470470656635731' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/2002470470656635731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/2002470470656635731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/2009/03/sekolah-taman-siswa.html' title='Sekolah Taman Siswa'/><author><name>pandu rizki alfian</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SLZfkK4VTkI/AAAAAAAAABo/dMnL7Rb0axQ/S220/pandu+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SciFl2fFIRI/AAAAAAAAAFY/r_CuHdMncZ8/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5213984288985365579.post-3873571114840796053</id><published>2009-03-12T16:05:00.001+07:00</published><updated>2009-03-12T16:07:39.316+07:00</updated><title type='text'>Pengkhianatan G 30 S/PKI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SbjQ0CT5vlI/AAAAAAAAAEs/0se1f3l24B8/s1600-h/pki.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 116px; height: 114px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SbjQ0CT5vlI/AAAAAAAAAEs/0se1f3l24B8/s320/pki.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312225352875621970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pengkhianatan G 30 S/PKI adalah judul film Indonesia dari tahun 1984 yang disutradarai oleh Arifin C Noer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita film ini adalah versi resmi pemerintah Orde Baru tentang peristiwa yang terjadi pada malam 30 September dan pagi 1 Oktober 1965 di Jakarta. Pada malam dan pagi hari itu terjadi pergolakan politik di Indonesia yang kemudian berujung pada pergantian rezim dari Soekarno ke Soeharto. Pihak Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto mengatakan bahwa Partai Komunis Indonesia melakukan pemberontakan yang kemudian digagalkan oleh Soeharto sendiri. Inilah yang menjadi dasar film tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai hari ini masih banyak orang yang mempertentangkan kebenaran hal tersebut dan topik ini masih diselimuti banyak kontroversi dan rahasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintahan Soeharto kemudian memerintahkan satu-satunya stasiun televisi di Indonesia saat itu, TVRI, untuk menayangkan film ini setiap tahun pada tanggal 30 September malam. Pada saat stasiun-stasiun televisi swasta bermunculan, mereka juga dikenai kewajiban yang sama. Peraturan ini kemudian dihapuskan pada tahun 1998 dan sejak saat itu film ini belum pernah lagi diputar di stasiun televisi Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5213984288985365579-3873571114840796053?l=garuda-khatulistiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/feeds/3873571114840796053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5213984288985365579&amp;postID=3873571114840796053' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/3873571114840796053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/3873571114840796053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/2009/03/pengkhianatan-g-30-spki.html' title='Pengkhianatan G 30 S/PKI'/><author><name>pandu rizki alfian</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SLZfkK4VTkI/AAAAAAAAABo/dMnL7Rb0axQ/S220/pandu+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SbjQ0CT5vlI/AAAAAAAAAEs/0se1f3l24B8/s72-c/pki.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5213984288985365579.post-860706784731856614</id><published>2009-03-12T15:59:00.002+07:00</published><updated>2009-03-12T16:03:23.433+07:00</updated><title type='text'>Misteri Lubang Buaya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SbjPfA9j0SI/AAAAAAAAAEk/QzXVaIxXATc/s1600-h/lb.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 84px; height: 109px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SbjPfA9j0SI/AAAAAAAAAEk/QzXVaIxXATc/s320/lb.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312223892224594210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;HUJAN turun deras. Datuk Banjir menutup kepalanya dengan kain sarung. Begitu juga kedua temannya. Dalam gelap, getek yang mereka naiki dibiarkan melaju sendiri mengikuti riak air. Di sebuah tempat, getek tiba-tiba berhenti. Datuk mengambil galah dan membenamkan ujungnya ke dasar air untuk mendapatkan gerak maju. Dasar air tak tersentuh. Getek tetap diam. Dicobanya lagi, masih tak berhasil. Datuk mengira, di sana ada lubang tempat persembunyian buaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika air telah surut, Datuk kembali ke sana. Benar saja, di situ terdapat sebuah lubang. Bentuknya seperti sumur. Ia menamakannya Lubang Buaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Legenda Lubang Buaya berkembang dari mulut ke mulut. Terakhir, penduduk sekitar mendengarnya dari H. Yusuf, pria asal Cirebon, yang mengklaim keturunan Datuk Banjir. Mereka yang percaya, mendatangi sumur itu setiap menjelang musim hujan, sekira bulan Oktober. Di sana, mereka menyelenggarakan ruwatan. Doa mohon keselamatan dari ancaman bahaya banjir dipanjatkan. Nama Datuk Banjir yang diyakini menguasai tempat itu, mereka lafalkan dengan khidmat. Tradisi ruwatan meluas ke permohonan lain. Kepada sang penguasa sumur, warga juga meminta limpahan rejeki dan jodoh buat anak-anak gadisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumur Lubang Buaya terletak di Desa Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, sekitar 20 kilometer dari pusat kota. Di sebelah selatannya terdapat markas besar Tentara Nasional Indonesia Cilangkap, sebelah utara Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, sebelah timur Pasar Pondok Gede, dan barat Taman Mini Indonesia Indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah di seputaran bibir sumur berwarna merah kecoklatan dan kering. Bagian terdekat diberi terali besi bercat merah putih. Lantai marmer putih kilap mengelilingi sumur berdiameter 75 centimeter itu. Sebuah cungkup, bangunan seperti pendopo, memayunginya. Langit-langit bangunan ini diukir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di atas lubang, sebuah cermin bergantung. Lewat cermin inilah orang bisa menatap dasar sumur yang diberi pelita. Kecuali nyala api tadi, tak ada apa-apa lagi di sana. Jangankan air, rumput pun tak tumbuh di sumur berkedalaman 12 meter itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Lubang Buaya ditata, itu bukan dimaksudkan untuk mengendapkan cerita rakyat tentang Datuk Banjir. Ada cerita lain yang punya dimensi politik, sekaligus jadi bagian sejarah Indonesia dengan segala kontraversinya. Di sanalah jasad tujuh perwira militer, enam jenderal dan seorang letnan, ditemukan dalam keadaan rusak. Peristiwa traumatik ini, terutama bagi militer Indonesia, dikenal dengan nama G-30-S PKI, kependekkan dari “Gerakan 30 September 1965 Partai Komunis Indonesia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembunuhan atas para perwira itu jadi antiklimaks ofensif PKI terhadap seteru-seteru politiknya. Militer memburu mereka yang dianggap bertanggung jawab. Kekuatan massa PKI habis dalam tempo cepat, menyusul pembantaian besar-besaran atas mereka di berbagai daerah oleh militer dan massa pro-militer. Sebagian di antaranya dijebloskan ke dalam penjara dan diasingkan ke pulau-pulau terpencil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kilas balik ofensif PKI, yang ditandai oleh pembentukan milisi dan sayap militer, sekurang-kurangnya dapat ditelusuri ke tanggal 23 Mei 1965. Saat itu, PKI menggelar peringatan ulang tahun. Dalam even ini, D.N. Aidit, ideolog PKI, menyeru kader-kadernya untuk meningkatkan sikap revolusioner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan yang mirip ‘parade kekuatan rakyat’ itu semarak dengan poster-poster berisikan slogan-slogan PKI, termasuk propaganda pembentukan “Angkatan V”. Ini merujuk kepada kekuatan buruh dan tani untuk dipersenjatai dan dilatih kemiliteran. Empat angkatan yang telah terbentuk sebelumnya adalah militer angkatan darat, laut, udara dan kepolisian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ledakan kebringasan massa hanya tinggal tunggu waktu. Dan benar, seruan Aidit diikuti oleh terjunnya para eksponen PKI ke desa-desa membawa slogan “Desa Mengepung Kota”, tak ubahnya slogan Mao Tse Tung ketika mengobarkan revolusi komunisme di China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam aksinya, mereka meneriakkan kebencian terhadap unsur-unsur masyarakat yang dianggap jadi lawan-lawan politiknya. PKI mengekspresikannya dalam slogan “Tujuh Setan Desa”. Mereka adalah tuan tanah, tengkulak, bandit desa, tukang ijon, lintah darat, birokrat desa, dan amil zakat. Keadaan memanas, massa PKI melakukan serangkaian pembantaian dan pembunuhan sistematis terhadap “setan-setan” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi brutal PKI meresahkan rival-rivalnya. PNI (Partai Nasional Indonesia), NU (Nahdlatul Ulama), Parkindo (Partai Kebangkitan Indonesia), Partai Katolik, PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia), hingga IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia), siaga menghadapi berbagai kemungkinan seraya melontarkan berbagai kecaman. PKI di satu pihak dan lawan politiknya di pihak lain, berhadap-hadapan untuk suatu konfrontasi terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pimpinan PKI di Jakarta, yang tergabung dalam Politbiro, lembaga kekuasaan tertinggi partai berlambang paru dan arit itu, menyambut reaksi seteru-seterunya dengan mempercepat pembentukan milisi. Juli 1965, kader-kader PKI berdatangan ke Lubang Buaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana, mereka dilatih oleh sejumlah instruktur militer di bawah pimpinan Mayor Udara Sujono, Komandan Pasukan Pertahanan Pangkalan Halim. Tak hanya kaum pria, kader-kader PKI perempuan pun ikut serta. Kebanyakan dari mereka berasal dari organisasi yang sangat solid pada masa itu: Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir latihan, mereka mendiskusikan berbagai persoalan politik, terutama sepak-terjang sejumlah jenderal yang dianggap korup dan dekaden hingga Indonesia dilanda krisisis. Saat itu, laju inflasi memang sudah mencapai dua digit. Antrean bahan makanan pokok berlangsung di mana-mana. Banyak rakyat yang kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Massa PKI berang. Mereka berteriak-teriak meminta para jenderal itu dihadirkan ke hadapan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letnan Kolonel Untung, komandan Cakrabirawa, pasukan pengawal kepresidenan, memerintahkan Letnan Satu Dul Arief untuk menjemput dan membawa jenderal-jenderal yang telah didata. Pasukan Pasopati yang dipimpinnya segera bergerak dari Lubang Buaya sekitar pukul 03.00 WIB. Mereka menyebar ke sasaran masing-masing secara serentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brigadir Jenderal Soetodjo Siswomihardjo, Brigadir Jenderal Donald Izaac Pandjaitan, Mayor Jenderal S. Parman, Mayor Jenderal MT Hardjono, Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal R. Soeprapto dan Letnan Satu Piere Andries Tendean, mereka bawa ke Lubang Buaya untuk diinterogasi. Massa yang sedang kalap menganiaya mereka hingga tewas. Jenazah para korban lantas dibenamkan ke dalam sumur itu. [Versi lain mengatakan sebagian di antara mereka masih hidup ketika dijatuhkan ke sumur.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah-kisah menyeramkan pun segera mengalir. Soeharto, salah seorang jenderal yang selamat, mengkampanyekan kekejian massa PKI lewat dua koran milik militer: Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha. Disebutkan, sebelum dibunuh, para perwira itu disiksa dan dijadikan bagian pesta mesum Gerwani. Sejumlah perwira disayat-sayat kemaluannya dan matanya dicungkil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum dibunuh, mereka dikelilingi kader Gerwani sambil menari-nari dan menyanyikan lagu-lagu rakyat yang sedang populer masa itu, seperti Ganyang Kabir atau Ganyang Tiga Setan Kota ciptaan Soebroto K Atmodjo, komponis Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi underbouw PKI. Genjer-genjer, lagu pop yang sedang hit waktu itu, ikut menyemarakkan. Mereka yang sudah trance kemudian menusuk-nusukkan pisau ke sejumlah anggota tubuh para korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran-koran pun memberitakan, dalam suasana yang semakin panas, beberapa wanita menanggalkan busananya, dan tenggelam dalam ritual pesta “Harum Bunga”. Pesta ini sekaligus memuncaki pesta sebelumnya sebagai suatu rangkaian penanda berakhirnya latihan militer mereka. Ada berita lain yang menyebutkan, bahwa dalam pesta itu mereka melakukan hubungan seks liar. Seorang dokter diisukan memberikan pil-pil perangsang syahwat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jelaslah bagi kita,” kata Soeharto, “betapa kejamnya aniaya yang telah dilakukan oleh petualang-petualang biadab dari apa yang dinamakan Gerakan 30 September.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapat dukungan massa, Soeharto mengambil-alih tongkat komando militer Indonesia. Ia memimpin upacara pengangkatan jenazah dari dalam sumur, mempertontonkannya kepada massa, dan mempublikasi data-data forensik tentang kerusakan jenazah dan penyebabnya. Kebencian akan PKI menyebar ke seantero negeri dan melahirkan perburuan besar-besaran pada tokoh-tokoh serta anggota partai tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudomo, bekas menteri Koordinator Politik dan Keamanan, mengatakan, ada sejuta massa PKI yang terbunuh. Angka ini jauh lebih kecil dari perkiraan peneliti masalah ini, yang menaksir antara dua sampai tiga juta orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang selamat dari pembunuhan dipenjarakan dan diasingkan ke berbagai tempat, mulai Pulau Nusakambangan [wilayah selatan Indonesia] hingga Pulau Buru [wilayah timur Indonesia]. Hampir semua tahanan politik PKI, yang jumlahnya ribuan, dipenjarakan tanpa proses pengadilan. Bahkan surat penahanan pun mereka terima setelah bertahun-tahun berada di balik jeruji besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeharto sendiri, lewat secarik kertas bernama Super Semar—kependekkan dari Surat Perintah Sebelas Maret 1966, yang diteken Presiden Soekarno—akhirnya memegang komando militer dengan kekuasaan penuh. Bahkan, dengan kekuasaannya itu, ia mengasingkan Soekarno ke Istana Bogor dengan alasan pengamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeharto kemudian menanda-tangani surat keputusan No.1/3/1966 untuk membubarkan PKI. Surat keputusan ini diperkuat lagi dengan Ketetapan Majelis Permusyaratan Rakyat Sementara (Tap MPRS) Nomor 25/1966.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, selain PKI dinyatakan partai terlarang, setiap kegiatan penyebaran atau pengembangan paham dan ajaran Komunisme-Marxisme- Leninisme, dianggal illegal. Seluruh eks PKI dan sanak-familinya tak diperkenankan masuk ke dalam jajaran pemerintahan dan militer. Di kemudian hari, mereka pun tak bisa jadi pegawai swasta karena swasta takut memperkerjakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandul perubahan politik berjalan dengan cepat. Soeharto, yang sebelumnya sama sekali tak populer di mata rakyat, makin dielu-elukan sebagai penyelamat negara. Tahun 1967, ia diangkat jadi presiden kedua Indonesia oleh MPRS, yang diketuai Jenderal A.H. Nasution. Era Orde Baru dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun itu juga, Soeharto langsung memerintahkan aparatnya untuk membebaskan kawasan Lubang Buaya dari hunian penduduk dalam radius 14 hektar. Mereka yang terusir kebanyakan memilih kampung Rawabinong dan Bambu Apus, beberapa kilometer dari Lubang Buaya, sebagai daerah tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1973, kawasan itu diresmikan sebagai jadi Monumen Pancasila Sakti. Upacara kenegaraan 1 Oktober untuk mengenang peristiwa G-30-S PKI, segera mengubur upacara rakyat ruwatan Oktober untuk menyeru Datuk Banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh perwira militer yang terbunuh diabadikan dalam tugu, patung dan relief yang berada sekitar 45 meter sebelah utara cungkup sumur Lubang Buaya. Patung-patung mereka dibangun setinggi kurang lebih 17 meter dengan instalasi patung Burung Garuda di belakangnya. Dinding berbentuk trapesium, berdiri kokoh di atas landasan berukuran 17 x 17 meter bujur sangkar dengan tinggi 7 anak tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berdiri dalam formasi setelah lingkaran, mulai Soetodjo Siswomiharjo, DI Pandjaitan, S. Parman, Ahmad Yani, R. Soeprapto, MT Hardjono dan AP Tendean. Salah satu patung di monumen tersebut, perwujudan A. Yani, yang di masa lalu jadi saingan Soeharto dalam karir kemiliteran, menunjukkan tangannya ke arah sumur Lubang Buaya—seolah hendak mengatakan, “Di sanalah kami mati.” Mati fisik, mati politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk masuk ke dalam monumen, orang harus berjalan sepanjang satu kilometer dari Jalan Raya Pondok Gede. Ucapan “Selamat Datang” terukir di di atas batu besar berwarna hitam. Kembang kertas berada di sepanjang jalan masuk. Sekeliling monumen dibuatkan tembok tinggi dari muka hingga belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di areal monumen, terdapat museum. Di sini, pengunjung bisa mendengarkan riwayat singkat para jenderal yang terbunuh itu, dengan memasukan koin dan menggenggam gagang telepon di bawah foto mereka. Bagi yang ingin menonton film G-30-S PKI disediakan tempat khusus. Mereka yang ingin membaca, disediakan perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bangunan bekas orang-orang PKI menjalankan aktivitasnya bertebaran di sana. Di sebelah kiri sumur, misalnya, terdapat bangunan berukuran sekitar 8 m x 15,5 m yang dijadikan tempat penyiksaan para perwira itu. Bangunan ini terbuat dari ayaman bambu dan bilah-bilah papan yang dicat coklat dengan jendela kaca hitam. Sebelum G-30-S meletus, bangunan tersebut dulunya Sekolah Rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ruangan, terdapat 18 patung. Sebagian di antaranya, patung perwira militer yang sedang disiksa. Di depan mereka, berdiri empat patung perempuan aktivis Gerwani. Salah satunya mengenakan busana tradisional kebaya putih berbunga-bunga kecil, sarung batik, dengan rambut panjang terurai. Ia memegang pentungan dalam sorot mata bengis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melihat patung-patung itu, tersedia tiga jendela yang terbuka lebar. Penerangannya jelek. Debu-debu yang menempel di patung-patung tersebut memberi kesan kurang perawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari sana, berdiri sebuah bangunan bekas dapur umum, yang kabarnya menyimpan suara-suara aneh tanpa wujud. “Tertawa cekikikan dan bahkan melenguh,” kata Yasan Suryana, seorang penjaga yang sudah 17 tahun bertugas sebagai pegawai honorer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat, genteng rumah itu pernah direnovasi. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu bercat putih, dengan beberapa bagian dicat hijau. Menurut cerita warga di sana, rumah itu dulunya milik Ibu Amroh, seorang pedagang Cingkau (pakaian keliling). Tak ada yang tahu, di mana Ibu Amroh atau keturunannya berada kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar dua puluh meter dari dapur umum, terdapat rumah Haji Sueb, seorang penjahit. Ada beberapa bilik di dalamnya, dengan tiga lampu petromaks yang berdebu, mesin jahit di ruang tengah dan lemari pakaian dengan kaca besar di pintunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Haji Sueb dianggap sebagai pos komando PKI. Letnan Kolonel Untung, mengatur rencana penculikan terhadap perwira militer dari sana. Haji Sueb sendiri telah lama meninggal, setelah mengalami penahanan panjang di Pulau Buru. Keluarganya trauma dan tak pernah yakin Haji Sueb terlibat dengan gerakan itu. Suara-suara aneh pun sering terdengar di sini. Sejumlah penjaga, konon pernah mendengar suara tangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah mistis masih bisa diperpanjang. Elizabeth [tanpa nama referensi kedua], pegawai museum, yang dianggap punya indera keenam oleh teman-temannya, sering melihat sosok perempuan yang tertawa-tawa saat berlangsung apel petugas jaga, yang kesemuanya berjumlah enam orang. Perempuan itu duduk di bawah air mancur yang menghadap Lapangan Saptamarga, tak jauh dari sumur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita-cerita mistis barangkali sama absurd-nya dengan cerita-cerita perlakuan kader-kader PKI terhadap para perwira militer yang dibunuh, termasuk penyayatan atas kemaluannya. Tahun 1987, dalam jurnal Indonesia terbitan Universitas Cornell, Ben Anderson, seorang ahli sejarah tentang Indonesia, mengungkapkan laporan dokter yang membuat visum et repertum atas jenazah para korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam resume penelitian tim dokter yang diketuai Brigjen TNI dr Roebiono Kertapati itu, tertulis bahwa tak ada kemaluan korban yang disayat. Hal ini sekaligus mengukuhkan ucapan Presiden Soekarno, yang sebelumnya sempat mengatakan, bahwa 100 silet yang dibagikan kepada massa untuk menyayat-nyayat tubuh korban tak masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saskia Eleonora Wieringa—seorang sarjana Belanda penulis The Politicization of Gender Relations in Indonesia—menilai penjelasan resmi Orde Baru atas pembunuhan Lubang Buaya sebagai fantasi aneh. Dia mengatakan, penguasa militer dan golongan konservatif khawatir melihat kekuatan perempuan di zaman Soekarno, yang boleh jadi akan mengebiri kekuatan politik mereka. Dari sinilah mengalir fantasi aneh tentang pengebirian para perwira di Lubang Buaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua pemberitaan mengenai Gerwani adalah fitnah yang dimulai oleh Soeharto sendiri,” kata Sulami, 74 tahun, tokoh Gerwani. Ia, yang kini ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966, pernah melakukan identifikasi terhadap mereka yang dibunuh ketika itu, mulai tempat, cara, hingga siapa saja yang membunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan sejumlah anggota Gerwani di Lubang Buaya itu pun masih penuh kabut. Beberapa peneliti justru tak melihat tindakan mereka sebagai usaha persiapan kudeta, melainkan dimaksudkan untuk memberi dukungan terhadap proyek politik Soekarno dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia. Mereka adalah bagian dari 20 juta relawan yang hendak memenuhi ajakan Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah studi kritis mengungkapkan fakta-fakta lain, yang menunjukkan bahwa ofensif PKI justru dipicu oleh rencana kudeta oleh pihak militer. Dalam sebuah pledoi di muka Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) pada 19 Februari 1966, pentolan PKI Nyono memberi kesaksian, bahwa pihak militer telah merancang rencana kudeta di bawah kendali apa yang dinamakan “Dewan Jenderal”. Untuk mengimbangi kekuatan ini, PKI membuat “Dewan Revolusi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perihal Dewan Jenderal diketahui Nyono dari sejumlah informasi yang rinci, lengkap mendeskripsikan tanggal, jam, tempat, nama, acara, persoalan dan lain–lainnya. “Yang saya masih ingat,” ungkap Nyono, “ialah bahwa tidak semua jenderal masuk dalam Dewan Jenderal. Jumlah anggotanya kurang lebih 40 Jenderal, diantaranya kurang lebih 25 orang aktif menjalankan politik Dewan Jenderal. Tokoh–tokoh utamanya ada tujuh orang yaitu Jenderal Nasution, A..Yani, Suparman, Haryono, Suprapto, Sutoyo, dan Sukendro.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai ambisinya, mereka sering menggelar berbagai rapat. Terakhir, menurut ingatan Nyono, mereka mengadakan rapat pleno pada 21 September 1965 di Jl. Dr. Abdulrachman Saleh, Jakarta. Rapat yang dipimpin oleh Suparman dan Haryono ini, mensahkan rencana komposisi Kabinet Dewan Jenderal dan menetapkan waktu dilakukannya kudeta, yaitu sebelum Hari Angkatan Perang pada tanggal 5 Oktober 1965.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komposisi kepemimpinannya, tambah Nyono, terdiri atas AH Nasution (Perdana Menteri), Ruslan Abdul Gani (Wakil Perdana Menteri), A. Yani (Menteri Pertahanan dan Keamanan), Suprapto (Menteri Dalam Negeri), Haryono (Menteri Luar Negeri), Sutoyo (Menteri Kehakiman) serta Suparman (Jaksa Agung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun, suara Nyono tenggelam di antara arus besar pembersihan orang-orang PKI dan catatan-catatan resmi yang bersumber dari pemerintah. Demikian pula hasil penelitian-peneliti an forensik yang mencoba mengungkap sekitar kekejaman orang-orang PKI terhadap para perwira militer di Lubang Buaya itu. Penolakan sejumlah politikus untuk menghapus Tap MPRS Nomor 25/1966, ikut melestarikan cerita versi Orde Baru sebagai satu-satunya referensi sejarah sekitar peristiwa G-30-S PKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide penghapusan bukan hanya datang dari para peneliti, sejarawan dan masyarakat awam. Abdurrahman Wahid, presiden ke-4 Indonesia, sempat membicarakannya secara terbuka, walau mendapat kecaman dari sana-sini, termasuk dari Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi massa Islam terbesar di Indonesia yang pernah dipimpinnya. Mengikuti pembicaraannya, Wahid bahkan melontarkan permintaan maaf atas nama rakyat terhadap orang-orang PKI yang selama puluhan tahun ditindas oleh negara di bawah pemerintahan Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Megawati Sukarnaputri, pengganti Wahid, tak pernah bertindak seperti itu. Tapi, di tahun 2002, ia tak hadir pada upacara 1 Oktober di Lubang Buaya. Apakah ini bentuk penolakan Megawati atas sejarah versi Orde Baru itu, tak pernah jelas. Tapi, sejatinya, ketidakhadiran Presiden dimungkinkan oleh protokoler negara sejak lahirnya Keputusan Presiden tentang perubahan nama peringatan: dari “Hari Kesaktian Pancasila” menjadi “Hari Mengenang Tragedi Nasional Akibat Pengkhianatan G-30-S PKI terhadap Pancasila”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar mengikuti peraturan? Menteri Pendidikan Nasional A. Malik Fadjar, yang ditunjuk ketua panitia pusat peringatan saat itu, mengatakan kepada pers bahwa absennya Megawati pada upacara tersebut karena ia tak ingin “membuka luka lama.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5213984288985365579-860706784731856614?l=garuda-khatulistiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/feeds/860706784731856614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5213984288985365579&amp;postID=860706784731856614' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/860706784731856614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/860706784731856614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/2009/03/misteri-lubang-buaya.html' title='Misteri Lubang Buaya'/><author><name>pandu rizki alfian</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SLZfkK4VTkI/AAAAAAAAABo/dMnL7Rb0axQ/S220/pandu+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SbjPfA9j0SI/AAAAAAAAAEk/QzXVaIxXATc/s72-c/lb.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5213984288985365579.post-8742601259583428311</id><published>2009-03-12T15:53:00.001+07:00</published><updated>2009-03-12T15:55:30.713+07:00</updated><title type='text'>Misteri Supersemar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SbjN2O3oAHI/AAAAAAAAAEc/6oo6SZaHLhs/s1600-h/misteri_supersemar.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 131px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SbjN2O3oAHI/AAAAAAAAAEc/6oo6SZaHLhs/s320/misteri_supersemar.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312222092071534706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Supersemar merupakan salah satu fase gelap dalam sejarah Indonesia. Sebagian menganggap peristiwa itu adalah kudeta terselubung yang dilakukan oleh Soeharto, dengan dukungan Angkatan Darat, kepada Presiden Soekarno. Sebagian lagi menganggap Supersemar adalah keharusan, karena Soekarno telah menempuh langkah yang melenceng dan tak bisa dibiarkan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan tentang Supersemar makin menguat bersamaan dengan kegerahan orang terhadap pemerintahan Soeharto yang makin menekan dan terkesan tidak rela untuk meninggalkan kursi kepresidenannya. Ini membuat Supersemar dibicarakan dalam suara negatif: bahwa yang dipegang Soeharto adalah Supersemar palsu-Supersemar yang direkayasa sedemikian rupa sehingga memberi wewenang tak terbatas bagi pemegangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu media yang gigih mengungkap perkara Supersemar adalah DeTAK. Dalam edisi No. 32, tahun ke-1, tanggal 2-8 Maret 1999, DeTAK mengangkat satu laporang yang cukup lengkap tentang Supersemar dengan menampilkan narasumber yang sebelumnya “diancam” agar tidak bersuara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan artikel dan pemberitaan tentang Supersemar di DeTAK itu diterbitkan lagi dalam bentuk buku yang berjudul Misteri Supersemar. Buku yang diterbitkan oleh mediakita ini juga dilengkapi hasil wawancara dengan Ali Ebram, si pengetik Supersemar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5213984288985365579-8742601259583428311?l=garuda-khatulistiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/feeds/8742601259583428311/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5213984288985365579&amp;postID=8742601259583428311' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/8742601259583428311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/8742601259583428311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/2009/03/misteri-supersemar.html' title='Misteri Supersemar'/><author><name>pandu rizki alfian</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SLZfkK4VTkI/AAAAAAAAABo/dMnL7Rb0axQ/S220/pandu+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SbjN2O3oAHI/AAAAAAAAAEc/6oo6SZaHLhs/s72-c/misteri_supersemar.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5213984288985365579.post-3819298116274455644</id><published>2009-03-09T11:45:00.003+07:00</published><updated>2009-03-09T11:53:45.948+07:00</updated><title type='text'>Naskah asli teks proklamasi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Naskah Asli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SbSggTe4iDI/AAAAAAAAAEM/fapI3Pohyjs/s1600-h/350px-Proklamasi.png"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 215px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SbSggTe4iDI/AAAAAAAAAEM/fapI3Pohyjs/s320/350px-Proklamasi.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311046337422723122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;18 Agustus 1945&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengambil keputusan, mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar (UUD) sebagai dasar negara Republik Indonesia, yang selanjutnya dikenal sebagai UUD 45. Dengan demikian terbentuklah Pemerintahan Negara Kesatuan Indonesia yang berbentuk Republik (NKRI) dengan kedaulatan di tangan rakyat yang dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akan dibentuk kemudian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah itu Soekarno dan M.Hatta terpilih secara aklamasi oleh PPKI sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang pertama. Presiden dan wakil presiden akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional.&lt;br /&gt;Isi Teks Proklamasi&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Isi teks proklamasi kemerdekaan yang singkat ini adalah:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan&lt;br /&gt;dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05&lt;br /&gt;Atas nama bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;Soekarno/Hatta&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di sini ditulis tahun 05 karena ini sesuai dengan tahun Jepang yang kala itu adalah tahun 2605.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Naskah Otentik&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Teks diatas merupakan hasil ketikan dari Sayuti Melik (atau Sajoeti Melik), salah&lt;br /&gt;seorang tokoh pemuda yang ikut andil dalam persiapan proklamasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sementara naskah yang sebenarnya hasil gubahan Muh.Hatta, A.Soebardjo, dan dibantu oleh&lt;br /&gt;Ir.Soekarno sebagai pencatat. Adapun bunyi teks naskah otentik itu sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Proklamasi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan&lt;br /&gt;dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Djakarta, 17 - 8 - ‘45&lt;br /&gt;Wakil2 bangsa Indonesia.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5213984288985365579-3819298116274455644?l=garuda-khatulistiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/feeds/3819298116274455644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5213984288985365579&amp;postID=3819298116274455644' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/3819298116274455644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/3819298116274455644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/2009/03/naskah-asli-teks-proklamasi_09.html' title='Naskah asli teks proklamasi'/><author><name>pandu rizki alfian</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SLZfkK4VTkI/AAAAAAAAABo/dMnL7Rb0axQ/S220/pandu+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SbSggTe4iDI/AAAAAAAAAEM/fapI3Pohyjs/s72-c/350px-Proklamasi.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5213984288985365579.post-993270255484619259</id><published>2009-02-14T20:16:00.003+07:00</published><updated>2009-02-14T20:28:05.522+07:00</updated><title type='text'>Asal Usul Nama Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SZbFjtDgIYI/AAAAAAAAAD0/odODxRnDZgg/s1600-h/pt+ina.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 101px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SZbFjtDgIYI/AAAAAAAAAD0/odODxRnDZgg/s320/pt+ina.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5302642828455715202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin bahwa sebagian besar Warga Negara Indonesia tidak mengetahui secara pasti bagaimana sejarah Nama Indonesia, kalaupun ada yang tahu itu dipastikan hanya sekian persen dari keseluruhan Warga Negara Indonesia. Padahal sangatlah penting kita mengetahui bagaimana asal usul nama Indonesia yang sekarang ini kita pakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam mata pelajaran sejarahpun, asal muasal nama Indonesia hampir tidak ada, kalaupun ada hanya sedikit yang menyinggungnya, makanya ketika saya iseng-iseng nanya pada seorang pelajar SMU baru-baru ini tentang sejarah nama Indonesia, saya tidak heran ketika si pelajar mengatakan tidak tahu dan tidak hapal.Untuk itu mari kita berbagai cerita mengenai asal usul nama Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman purba, kepulauan tanah air disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan tanah air dinamai &lt;b&gt;Nan-hai&lt;/b&gt; (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa Indoa menamai kepulauan ini &lt;b&gt;Dwipantara&lt;/b&gt; (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta &lt;i&gt;dwipa&lt;/i&gt; (pulau) dan &lt;i&gt;antara&lt;/i&gt; (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke &lt;b&gt;Suwarnadwipa&lt;/b&gt; (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.  &lt;p&gt;Bangsa Arab menyebut tanah air kita &lt;b&gt;Jaza'ir al-Jawi&lt;/b&gt; (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah &lt;i&gt;benzoe&lt;/i&gt;, berasal dari bahasa Arab &lt;i&gt;luban jawi&lt;/i&gt; (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon &lt;i&gt;Styrax sumatrana&lt;/i&gt; yang dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "Jawa" oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. Dalam bahasa Arab juga dikenal Samathrah (Sumatra), Sholibis (Sulawesi), Sundah (Sunda), semua pulau itu dikenal sebagai &lt;i&gt;kulluh Jawi&lt;/i&gt; (semuanya Jawa).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah "&lt;b&gt;Hindia&lt;/b&gt;". Semenanjung Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang". Sedangkan tanah air memperoleh nama "&lt;b&gt;Kepulauan Hindia&lt;/b&gt;" (&lt;i&gt;Indische Archipel&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Indian Archipelago&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;l'Archipel Indien&lt;/i&gt;) atau "&lt;b&gt;Hindia Timur&lt;/b&gt;" (&lt;i&gt;Oost Indie&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;East Indies&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Indes &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Orientales&lt;/i&gt;). Nama lain yang juga dipakai adalah "&lt;b&gt;Kepulauan Melayu&lt;/b&gt;" (&lt;i&gt;Maleische Archipel&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Malay Archipelago&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;l'Archipel Malais&lt;/i&gt;).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada jaman penjajahan Belanda, nama resmi yang digunakan adalah &lt;b&gt;Nederlandsch-Indie&lt;/b&gt; (&lt;b&gt;Hindia Belanda&lt;/b&gt;), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah &lt;b&gt;To-Indo&lt;/b&gt; (Hindia Timur).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Eduard Douwes Dekker ( 1820 – 1887 ), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu &lt;b&gt;Insulinde&lt;/b&gt;, yang artinya juga "Kepulauan Hindia" ( Bahasa Latin &lt;i&gt;insula&lt;/i&gt; berarti pulau). Nama Insulinde ini kurang populer.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Nusantara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada tahun 1920, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker ( 1879 – 1950), yang dikenal sebagai Dr. Setiabudi (cucu dari adik Multatuli), memperkenalkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata "India". Nama itu tiada lain adalah &lt;b&gt;Nusantara&lt;/b&gt;, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh JLA. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit, Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (&lt;i&gt;antara&lt;/i&gt; dalam Bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari &lt;i&gt;Jawadwipa&lt;/i&gt; (Pulau Jawa). Sumpah Palapa dari Gajah Mada tertulis "&lt;i&gt;Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa&lt;/i&gt;" (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi &lt;i&gt;jahiliyah&lt;/i&gt; itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli &lt;i&gt;antara&lt;/i&gt;, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu "nusa di antara dua benua dan dua samudra", sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sampai hari ini istilah nusantara tetap dipakai untuk menyebutkan wilayah tanah air dari Sabang sampai Merauke.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SZbGT-ZN3xI/AAAAAAAAAD8/19jonVdc7do/s1600-h/grd.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 150px; height: 110px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SZbGT-ZN3xI/AAAAAAAAAD8/19jonVdc7do/s320/grd.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5302643657743916818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Indonesia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, &lt;i&gt;Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia&lt;/i&gt; (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan ( 1819 – 1869 ), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Ingris, George Samuel Windsor Earl ( 1813 – 1865 ), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel &lt;i&gt;On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations&lt;/i&gt;. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (&lt;i&gt;a distinctive name&lt;/i&gt;), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: &lt;b&gt;Indunesia&lt;/b&gt; atau &lt;b&gt;Malayunesia&lt;/b&gt; (&lt;i&gt;nesos&lt;/i&gt; dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;"&lt;i&gt;... the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians&lt;/i&gt;".&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon ( Srilanka ) dan Maladewa. Earl berpendapat juga bahwa nahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The &lt;i&gt;Ethnology of the Indian Archipelago&lt;/i&gt;. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah "&lt;b&gt;Indian Archipelago&lt;/b&gt;" terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah &lt;b&gt;Indonesia&lt;/b&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;"&lt;i&gt;Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago&lt;/i&gt;".&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826 – 1905 ) menerbitkan buku &lt;i&gt;Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel&lt;/i&gt; sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air pada tahun 1864&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam &lt;i&gt;Encyclopedie van Nederlandsch-Indie&lt;/i&gt; tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat ( Ki Hajar Dewantara ). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama &lt;i&gt;Indonesische Pers-bureau&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Nama &lt;b&gt;indonesisch&lt;/b&gt; (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti indisch (Hindia) oleh Prof. Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander (pribumi) diganti dengan indonesiër (orang Indonesia).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Identitas Politik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, &lt;i&gt;Hindia Poetra&lt;/i&gt;, berganti nama menjadi &lt;i&gt;Indonesia Merdeka&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya,:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;"Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (&lt;i&gt;de toekomstige vrije Indonesische staat&lt;/i&gt;) mustahil disebut "Hindia Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924). Pada tahun 1925, Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Hindia Belanda agar nama "Indonesia" diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Tetapi Belanda menolak mosi ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan jatuhnya tanah air ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia Belanda". Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, lahirlah &lt;b&gt;Republik Indonesia&lt;/b&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5213984288985365579-993270255484619259?l=garuda-khatulistiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/feeds/993270255484619259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5213984288985365579&amp;postID=993270255484619259' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/993270255484619259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/993270255484619259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/2009/02/asal-usul-nama-indonesia.html' title='Asal Usul Nama Indonesia'/><author><name>pandu rizki alfian</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SLZfkK4VTkI/AAAAAAAAABo/dMnL7Rb0axQ/S220/pandu+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SZbFjtDgIYI/AAAAAAAAAD0/odODxRnDZgg/s72-c/pt+ina.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5213984288985365579.post-6070236591833557555</id><published>2009-02-01T09:49:00.006+07:00</published><updated>2009-03-31T16:21:09.391+07:00</updated><title type='text'>Mohammad Hatta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SdHb0BrRB7I/AAAAAAAAAGo/i4Xg8_1GR7o/s1600-h/bh.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 143px; height: 132px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SdHb0BrRB7I/AAAAAAAAAGo/i4Xg8_1GR7o/s400/bh.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319274321750853554" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dr.(H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta (populer sebagai Bung Hatta, lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 12 Agustus 1902 – wafat di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah pejuang, negarawan, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Bandar udara internasional Jakarta menggunakan namanya sebagai penghormatan terhadap jasanya sebagai salah seorang proklamator kemerdekaan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama yang diberikan oleh orang tuanya ketika dilahirkan adalah Muhammad Athar. Anak perempuannya bernama Meutia Hatta menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;Latar belakang dan pendidikan:&lt;/u&gt; &lt;/strong&gt;Hatta lahir dari keluarga ulama Minangkabau, Sumatera Barat. Ia menempuh pendidikan dasar di Sekolah Melayu, Bukittinggi, dan pada tahun 1913-1916 melanjutkan studinya ke Europeesche Lagere School (ELS) di Padang. Saat usia 13 tahun, sebenarnya ia telah lulus ujian masuk ke HBS (setingkat SMA) di Batavia (kini Jakarta), namun ibunya menginginkan Hatta agar tetap di Padang dahulu, mengingat usianya yang masih muda. Akhirnya Bung Hatta melanjutkan studi ke MULO di Padang. Baru pada tahun 1919 ia pergi ke Batavia untuk studi di Sekolah Tinggi Dagang "Prins Hendrik School". Ia menyelesaikan studinya dengan hasil sangat baik, dan pada tahun 1921, Bung Hatta pergi ke Rotterdam, Belanda untuk belajar ilmu perdagangan/bisnis di Nederland Handelshogeschool (bahasa inggris: Rotterdam School of Commerce, kini menjadi Universitas Erasmus). Di Belanda, ia kemudian tinggal selama 11 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tangal 27 November 1956, Bung Hatta memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Hukum dari Universitas Gadjah Mada di Yoyakarta. Pidato pengukuhannya berjudul "Lampau dan Datang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berusia 15 tahun, Hatta merintis karir sebagai aktivis organisasi, sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond Cabang Padang. Kesadaran politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idola Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis. Di Batavia, ia juga aktif di Jong Sumatranen Bond Pusat sebagai Bendahara. Ketika di Belanda ia bergabung dalam Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging). Saat itu, telah berkembang iklim pergerakan di Indische Vereeniging. Sebelumnya, Indische Vereeniging yang berdiri pada 1908 tak lebih dari ajang pertemuan pelajar asal tanah air. Atmosfer pergerakan mulai mewarnai Indische Vereeniging semenjak tibanya tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Ernest Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) di Belanda pada 1913 sebagai orang buangan akibat tulisan-tulisan tajam anti-pemerintah mereka di media massa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;Perjuangan:&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;Saat berusia 15 tahun, Hatta merintis karir sebagai aktivis organisasi, sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond (JSB) Cabang Padang. Di kota ini Hatta mulai menimbun pengetahuan perihal perkembangan masyarakat dan politik, salah satunya lewat membaca berbagai koran, bukan saja koran terbitan Padang tetapi juga Batavia. Lewat itulah Hatta mengenal pemikiran Tjokroaminoto dalam surat kabar Utusan Hindia, dan Agus Salim dalam Neratja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idola Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis. “Aku kagum melihat cara Abdul Moeis berpidato, aku asyik mendengarkan suaranya yang merdu setengah parau, terpesona oleh ayun katanya. Sampai saat itu aku belum pernah mendengarkan pidato yang begitu hebat menarik perhatian dan membakar semangat,” aku Hatta dalam Memoir-nya. Itulah Abdul Moeis: pengarang roman Salah Asuhan; aktivis partai Sarekat Islam; anggota Volksraad; dan pegiat dalam majalah Hindia Sarekat, koran Kaoem Moeda, Neratja, Hindia Baroe, serta Utusan Melayu dan Peroebahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 17 tahun, Hatta lulus dari sekolah tingkat menengah (MULO). Lantas ia bertolak ke Batavia untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School. Di sini, Hatta mulai aktif menulis. Karangannya dimuat dalam majalah Jong Sumatera, “Namaku Hindania!” begitulah judulnya. Berkisah perihal janda cantik dan kaya yang terbujuk kawin lagi. Setelah ditinggal mati suaminya, Brahmana dari Hindustan, datanglah musafir dari Barat bernama Wolandia, yang kemudian meminangnya. “Tapi Wolandia terlalu miskin sehingga lebih mencintai hartaku daripada diriku dan menyia-nyiakan anak-anakku,” rutuk Hatta lewat Hindania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda Hatta makin tajam pemikirannya karena diasah dengan beragam bacaan, pengalaman sebagai Bendahara JSB Pusat, perbincangan dengan tokoh-tokoh pergerakan asal Minangkabau yang mukim di Batavia, serta diskusi dengan temannya sesama anggota JSB: Bahder Djohan. Saban Sabtu, ia dan Bahder Djohan punya kebiasaan keliling kota. Selama berkeliling kota, mereka bertukar pikiran tentang berbagai hal mengenai tanah air. Pokok soal yang kerap pula mereka perbincangkan ialah perihal memajukan bahasa Melayu. Untuk itu, menurut Bahder Djohan perlu diadakan suatu majalah. Majalah dalam rencana Bahder Djohan itupun sudah ia beri nama Malaya. Antara mereka berdua sempat ada pembagian pekerjaan. Bahder Djohan akan mengutamakan perhatiannya pada persiapan redaksi majalah, sedangkan Hatta pada soal organisasi dan pembiayaan penerbitan. Namun, “Karena berbagai hal cita-cita kami itu tak dapat diteruskan,” kenang Hatta lagi dalam Memoir-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama menjabat Bendahara JSB Pusat, Hatta menjalin kerjasama dengan percetakan surat kabar Neratja. Hubungan itu terus berlanjut meski Hatta berada di Rotterdam, ia dipercaya sebagai koresponden. Suatu ketika pada medio tahun 1922, terjadi peristiwa yang mengemparkan Eropa, Turki yang dipandang sebagai kerajaan yang sedang runtuh (the sick man of Europe) memukul mundur tentara Yunani yang dijagokan oleh Inggris. Rentetan peristiwa itu Hatta pantau lalu ia tulis menjadi serial tulisan untuk Neratja di Batavia. Serial tulisan Hatta itu menyedot perhatian khalayak pembaca, bahkan banyak surat kabar di tanah air yang mengutip tulisan-tulisan Hatta.&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hatta mulai menetap di Belanda semenjak September 1921. Ia segera bergabung dalam Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging). Saat itu, telah tersedia iklim pergerakan di Indische Vereeniging. Sebelumnya, Indische Vereeniging yang berdiri pada 1908 tak lebih dari ajang pertemuan pelajar asal tanah air. Atmosfer pergerakan mulai mewarnai Indische Vereeniging semenjak tibanya tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) di Belanda pada 1913 sebagai eksterniran akibat kritik mereka lewat tulisan di koran De Expres. Kondisi itu tercipta, tak lepas karena Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara) menginisiasi penerbitan majalah Hindia Poetra oleh Indische Vereeniging mulai 1916. Hindia Poetra bersemboyan “Ma’moerlah Tanah Hindia! Kekallah Anak-Rakjatnya!” berisi informasi bagi para pelajar asal tanah air perihal kondisi di Nusantara, tak ketinggalan pula tersisip kritik terhadap sikap kolonial Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indische Vereeniging, pergerakan putra Minangkabau ini tak lagi tersekat oleh ikatan kedaerahan. Sebab Indische Vereeniging berisi aktivis dari beragam latar belakang asal daerah. Lagipula, nama Indische –meski masih bermasalah– sudah mencerminkan kesatuan wilayah, yakni gugusan kepulauan di Nusantara yang secara politis diikat oleh sistem kolonialisme belanda. Dari sanalah mereka semua berasal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatta mengawali karir pergerakannya di Indische Vereeniging pada 1922, lagi-lagi, sebagai Bendahara. Penunjukkan itu berlangsung pada 19 Februari 1922, ketika terjadi pergantian pengurus Indische Vereeniging. Ketua lama dr. Soetomo diganti oleh Hermen Kartawisastra. Momentum suksesi kala itu punya arti penting bagi mereka di masa mendatang, sebab ketika itulah mereka memutuskan untuk mengganti nama Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging dan kelanjutannya mengganti nama Nederland Indie menjadi Indonesia. Sebuah pilihan nama bangsa yang sarat bermuatan politik. Dalam forum itu pula, salah seorang anggota Indonesische Vereeniging mengatakan bahwa dari sekarang kita mulai membangun Indonesia dan meniadakan Hindia atau Nederland Indie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di Belanda, dan di sinilah ia bersahabat dengan nasionalis India, Jawaharlal Nehru. Aktivitasnya dalam organisasi ini menyebabkan Hatta ditangkap pemerintah Belanda. Hatta akhirnya dibebaskan, setelah melakukan pidato pembelaannya yang terkenal: Indonesia Free.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1932 Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia melalui proses pelatihan-pelatihan. Belanda kembali menangkap Hatta, bersama Soetan Sjahrir, ketua Club Pendidikan Nasional Indonesia pada bulan Februari 1934. Hatta diasingkan ke Digul dan kemudian ke Banda selama 6 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1945, Hatta secara aklamasi diangkat sebagai wakil presiden pertama RI, bersama Bung Karno yang menjadi presiden RI sehari setelah ia dan bung karno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Oleh karena peran tersebut maka keduanya disebut Bapak Proklamator Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;Kehidupan pribadi:&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;Hatta menikah dengan Rahmi Rachim pada tanggal 18 Nopember 1945 di Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Mereka mempunyai tiga orang putri, yaitu Meutia Farida, Gemala Rabi'ah, dan Halida Nuriah. Dua orang putrinya yang tertua telah menikah. Yang pertama dengan Dr. Sri-Edi Swasono dan yang kedua dengan Drs. Mohammad Chalil Baridjambek. Hatta sempat menyaksikan kelahiran dua cucunya, yaitu Sri Juwita Hanum Swasono dan Mohamad Athar Baridjambek.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perpustakaan:&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5213984288985365579-6070236591833557555?l=garuda-khatulistiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/feeds/6070236591833557555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5213984288985365579&amp;postID=6070236591833557555' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/6070236591833557555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/6070236591833557555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/2009/02/mohammad-hatta_01.html' title='Mohammad Hatta'/><author><name>pandu rizki alfian</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SLZfkK4VTkI/AAAAAAAAABo/dMnL7Rb0axQ/S220/pandu+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SdHb0BrRB7I/AAAAAAAAAGo/i4Xg8_1GR7o/s72-c/bh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5213984288985365579.post-650004383103222919</id><published>2008-11-26T16:28:00.002+07:00</published><updated>2008-12-08T10:33:39.177+07:00</updated><title type='text'>PROFIL BUNG KARNO</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SS0bzaSIm7I/AAAAAAAAACk/Dqiy1mMyCuU/s1600-h/169px-Soekarno.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 169px; height: 250px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SS0bzaSIm7I/AAAAAAAAACk/Dqiy1mMyCuU/s320/169px-Soekarno.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272901308763380658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;blink&gt;Ir. Soekarno&lt;/blink&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;(lahir di &lt;a style="color: rgb(0, 0, 0);" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Blitar" title="Kota Blitar"&gt;Blitar&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;a style="color: rgb(0, 0, 0);" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur" title="Jawa Timur"&gt;Jawa Timur&lt;/a&gt;, &lt;a style="color: rgb(0, 0, 0);" href="http://id.wikipedia.org/wiki/6_Juni" title="6 Juni"&gt;6 Juni&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;a style="color: rgb(0, 0, 0);" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1901" title="1901"&gt;1901&lt;/a&gt; – wafat di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta" title="Jakarta" class="mw-redirect"&gt;Jakarta&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/21_Juni" title="21 Juni"&gt;21 Juni&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1970" title="1970"&gt;1970&lt;/a&gt; dalam umur 69 tahun) adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Presiden_Indonesia" title="Presiden Indonesia" class="mw-redirect"&gt;Presiden&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia" title="Indonesia"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; pertama yang menjabat pada periode &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1945" title="1945"&gt;1945&lt;/a&gt; - &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1966" title="1966"&gt;1966&lt;/a&gt;. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah penggali &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pancasila" title="Pancasila"&gt;Pancasila&lt;/a&gt;. Ia adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Proklamator_Kemerdekaan" title="Proklamator Kemerdekaan" class="mw-redirect"&gt;Proklamator Kemerdekaan&lt;/a&gt; Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/17_Agustus" title="17 Agustus"&gt;17 Agustus&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1945" title="1945"&gt;1945&lt;/a&gt;. &lt;p&gt;Ia menerbitkan Surat Perintah 11 Maret 1966 &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Supersemar" title="Supersemar" class="mw-redirect"&gt;Supersemar&lt;/a&gt; yang kontroversial itu, yang konon, antara lain isinya adalah menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga kewibawaannya. Tetapi Supersemar tersebut disalahgunakan oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Letnan_Jenderal" title="Letnan Jenderal"&gt;Letnan Jenderal&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Soeharto" title="Soeharto"&gt;Soeharto&lt;/a&gt; untuk merongrong kewibawaannya dengan jalan menuduhnya ikut mendalangi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_30_September" title="Gerakan 30 September"&gt;Gerakan 30 September&lt;/a&gt;. Tuduhan itu menyebabkan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara yang anggotanya telah diganti dengan orang yang pro Soeharto, mengalihkan kepresidenan kepada Soeharto.&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Latar belakang dan pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;Soekarno dilahirkan dengan nama &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kusno_Sosrodihardjo&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Kusno Sosrodihardjo (belum dibuat)"&gt;Kusno Sosrodihardjo&lt;/a&gt;. Ayahnya bernama &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raden" title="Raden"&gt;Raden&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Soekemi_Sosrodihardjo&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Soekemi Sosrodihardjo (belum dibuat)"&gt;Soekemi Sosrodihardjo&lt;/a&gt;, seorang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Guru" title="Guru"&gt;guru&lt;/a&gt; di Surabaya, Jawa. Ibunya bernama &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ida_Ayu_Nyoman_Rai&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Ida Ayu Nyoman Rai (belum dibuat)"&gt;Ida Ayu Nyoman Rai&lt;/a&gt; berasal dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Buleleng" title="Buleleng"&gt;Buleleng&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bali" title="Bali"&gt;Bali&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Ketika kecil Soekarno tinggal bersama kakeknya di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tulungagung" title="Tulungagung" class="mw-redirect"&gt;Tulungagung&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur" title="Jawa Timur"&gt;Jawa Timur&lt;/a&gt;. Pada usia 14 tahun, seorang kawan bapaknya yang bernama &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Oemar_Said_Tjokroaminoto" title="Oemar Said Tjokroaminoto"&gt;Oemar Said Tjokroaminoto&lt;/a&gt; mengajak Soekarno tinggal di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Surabaya" title="Surabaya" class="mw-redirect"&gt;Surabaya&lt;/a&gt; dan disekolahkan ke &lt;i&gt;Hoogere Burger School (H.B.S.)&lt;/i&gt; di sana sambil mengaji di tempat Tjokroaminoto. Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sarekat_Islam" title="Sarekat Islam"&gt;Sarekat Islam&lt;/a&gt;, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu. Soekarno kemudian bergabung dengan organisasi &lt;i&gt;Jong Java&lt;/i&gt; (Pemuda Jawa).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tamat H.B.S. tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1920" title="1920"&gt;1920&lt;/a&gt;, Soekarno melanjutkan ke &lt;i&gt;Technische Hoge School&lt;/i&gt; (sekarang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/ITB" title="ITB" class="mw-redirect"&gt;ITB&lt;/a&gt;) di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bandung" title="Bandung" class="mw-redirect"&gt;Bandung&lt;/a&gt;, dan tamat pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1925" title="1925"&gt;1925&lt;/a&gt;. Saat di Bandung, Soekarno berinteraksi dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tjipto_Mangunkusumo" title="Tjipto Mangunkusumo" class="mw-redirect"&gt;Tjipto Mangunkusumo&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dr._Douwes_Dekker" title="Dr. Douwes Dekker" class="mw-redirect"&gt;Dr. Douwes Dekker&lt;/a&gt;, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=National_Indische_Partij&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="National Indische Partij (belum dibuat)"&gt;National Indische Partij&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Masa kemerdekaan&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Setelah Pengakuan Kedaulatan (Pemerintah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda" title="Belanda"&gt;Belanda&lt;/a&gt; menyebutkan sebagai Penyerahan Kedaulatan), Presiden Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Mohammad Hatta diangkat sebagai perdana menteri RIS. Jabatan Presiden Republik Indonesia diserahkan kepada Mr &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Assaat" title="Assaat"&gt;Assaat&lt;/a&gt;, yang kemudian dikenal sebagai RI Jawa-Yogya. Namun karena tuntutan dari seluruh rakyat Indonesia yang ingin kembali ke negara kesatuan, maka pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS kembali berubah menjadi Republik Indonesia dan Presiden Soekarno menjadi Presiden RI. Mandat Mr Assaat sebagai pemangku jabatan Presiden RI diserahkan kembali kepada Ir. Soekarno. Resminya kedudukan Presiden Soekarno adalah presiden konstitusional, tetapi pada kenyataannya kebijakan pemerintah dilakukan setelah berkonsultasi dengannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mitos Dwitunggal Soekarno-Hatta cukup populer dan lebih kuat dikalangan rakyat dibandingkan terhadap kepala pemerintahan yakni perdana menteri. Jatuh bangunnya kabinet yang terkenal sebagai "kabinet semumur jagung" membuat Presiden Soekarno kurang mempercayai sistem multipartai, bahkan menyebutnya sebagai "penyakit kepartaian". Tak jarang, ia juga ikut turun tangan menengahi konflik-konflik di tubuh militer yang juga berimbas pada jatuh bangunnya kabinet. Seperti peristiwa &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=17_Oktober_1952&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="17 Oktober 1952 (belum dibuat)"&gt;17 Oktober 1952&lt;/a&gt; dan Peristiwa di kalangan Angkatan Udara.&lt;/p&gt;Presiden Soekarno juga banyak memberikan gagasan-gagasan di dunia Internasional. Keprihatinannya terhadap nasib bangsa &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Asia" title="Asia"&gt;Asia&lt;/a&gt;-&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Afrika" title="Afrika"&gt;Afrika&lt;/a&gt;, masih belum merdeka, belum mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri, menyebabkan presiden Soekarno, pada tahun 1955, mengambil inisiatif untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang menghasilkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Dasa_Sila&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Dasa Sila (belum dibuat)"&gt;Dasa Sila&lt;/a&gt;. Bandung dikenal sebagai Ibu Kota Asia-Afrika. Ketimpangan dan konflik akibat "bom waktu" yang ditinggalkan negara-negara barat yang dicap masih mementingkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Imperialisme" title="Imperialisme"&gt;imperialisme&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kolonialisme" title="Kolonialisme"&gt;kolonialisme&lt;/a&gt;, ketimpangan dan kekhawatiran akan munculnya perang nuklir yang merubah peradaban, ketidakadilan badan-badan dunia internasional dalam pemecahan konflik juga menjadi perhatiannya. Bersama Presiden &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Josip_Broz_Tito" title="Josip Broz Tito"&gt;Josip Broz Tito&lt;/a&gt; (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yugoslavia" title="Yugoslavia"&gt;Yugoslavia&lt;/a&gt;), &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gamal_Abdel_Nasser" title="Gamal Abdel Nasser" class="mw-redirect"&gt;Gamal Abdel Nasser&lt;/a&gt; (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mesir" title="Mesir"&gt;Mesir&lt;/a&gt;), &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Ali_Jinnah" title="Mohammad Ali Jinnah"&gt;Mohammad Ali Jinnah&lt;/a&gt; (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pakistan" title="Pakistan"&gt;Pakistan&lt;/a&gt;), &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/U_Nu" title="U Nu"&gt;U Nu&lt;/a&gt;, (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Birma" title="Birma" class="mw-redirect"&gt;Birma&lt;/a&gt;) dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawaharlal_Nehru" title="Jawaharlal Nehru"&gt;Jawaharlal Nehru&lt;/a&gt; (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/India" title="India"&gt;India&lt;/a&gt;) ia mengadakan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Konferensi_Asia_Afrika" title="Konferensi Asia Afrika" class="mw-redirect"&gt;Konferensi Asia Afrika&lt;/a&gt; yang membuahkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_Non_Blok" title="Gerakan Non Blok" class="mw-redirect"&gt;Gerakan Non Blok&lt;/a&gt;. Berkat jasanya itu, banyak negara-negara Asia Afrika yang memperoleh kemerdekaannya. Namun sayangnya, masih banyak pula yang mengalami konflik berkepanjangan sampai saat ini karena ketidakadilan dalam pemecahan masalah, yang masih dikuasai negara-negara kuat atau adikuasa. Berkat jasa ini pula, banyak penduduk dari kawasan Asia Afrika yang tidak lupa akan Soekarno bila ingat atau mengenal akan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Guna menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif dalam dunia internasional, Presiden Soekarno mengunjungi berbagai negara dan bertemu dengan pemimpin-pemimpin negara. Di antaranya adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nikita_Khruschev" title="Nikita Khruschev" class="mw-redirect"&gt;Nikita Khruschev&lt;/a&gt; (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Uni_Soviet" title="Uni Soviet"&gt;Uni Soviet&lt;/a&gt;), &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/John_Fitzgerald_Kennedy" title="John Fitzgerald Kennedy" class="mw-redirect"&gt;John Fitzgerald Kennedy&lt;/a&gt; (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat" title="Amerika Serikat"&gt;Amerika Serikat&lt;/a&gt;), &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fidel_Castro" title="Fidel Castro"&gt;Fidel Castro&lt;/a&gt; (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kuba" title="Kuba"&gt;Kuba&lt;/a&gt;), &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mao_Tse_Tung" title="Mao Tse Tung" class="mw-redirect"&gt;Mao Tse Tung&lt;/a&gt; (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Republik_Rakyat_Cina" title="Republik Rakyat Cina"&gt;RRC&lt;/a&gt;).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Masa-masa kejatuhan Soekarno dimulai sejak ia "bercerai" dengan Wakil Presiden Moh. Hatta, pada tahun 1956, akibat pengunduran diri Hatta dari kancah perpolitikan Indonesia. Ditambah dengan sejumlah pemberontakan separatis yang terjadi di seluruh pelosok Indonesia, dan puncaknya, pemberontakan G 30 S, membuat Soekarno di dalam masa jabatannya tidak dapat "memenuhi" cita-cita bangsa Indonesia yang makmur dan sejahtera.&lt;/p&gt;&lt;h3&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Sakit hingga meninggal&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;Soekarno sendiri wafat pada tanggal 21 Juni 1970 di Wisma Yaso, Jakarta, setelah mengalami pengucilan oleh penggantinya &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Soeharto" title="Soeharto"&gt;Soeharto&lt;/a&gt;. Jenazahnya &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Makam_Soekarno" title="Makam Soekarno"&gt;dikebumikan&lt;/a&gt; di Kota Blitar, Jawa Timur, dan kini menjadi ikon kota tersebut, karena setiap tahunnya dikunjungi ratusan ribu hingga jutaan wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Terutama pada saat penyelenggaraan Haul Bung Karno.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5213984288985365579-650004383103222919?l=garuda-khatulistiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/feeds/650004383103222919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5213984288985365579&amp;postID=650004383103222919' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/650004383103222919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/650004383103222919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/2008/11/profil-bung-karno.html' title='PROFIL BUNG KARNO'/><author><name>pandu rizki alfian</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SLZfkK4VTkI/AAAAAAAAABo/dMnL7Rb0axQ/S220/pandu+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SS0bzaSIm7I/AAAAAAAAACk/Dqiy1mMyCuU/s72-c/169px-Soekarno.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5213984288985365579.post-8516768756568264644</id><published>2008-11-22T14:55:00.000+07:00</published><updated>2008-11-26T17:02:07.808+07:00</updated><title type='text'>Sumpah Pemuda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SS0eXxOybVI/AAAAAAAAACs/0zza1hm3ogE/s1600-h/450px-Kongrespemuda2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 212px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SS0eXxOybVI/AAAAAAAAACs/0zza1hm3ogE/s320/450px-Kongrespemuda2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272904132421905746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Peserta Kongres Pemuda II&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumpah Pemuda merupakan sumpah setia hasil rumusan Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia atau dikenal dengan Kongres Pemuda II, dibacakan pada 28 Oktober 1928. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai "Hari Sumpah Pemuda".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Isi : &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.&lt;br /&gt;KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kongres Pemuda II : &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu "Indonesia Raya" karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola saja tanpa syair, atas saran Sugondo kepada Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Peserta : &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hong sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah pemuda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Museum Sumpah Pemuda :&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Museum Sumpah Pemuda adalah sebuah museum sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang berada di Jalan Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat dan dikelola oleh departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum ini memiliki koleksi foto dan benda-benda yang berhubungan dengan sejarah Sumpah Pemuda 1928, serta kegiatan-kegiatan dalam pergerakan nasional Indonesia. Museum Sumpah Pemuda ini didirikan berdasarkan SK Gubernur DKI pada tahun 1972 dan menjadi benda cagar budaya nasional.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sejarah : &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bangunan di Jalan Kramat Raya 106, tempat dibacakannya Sumpah Pemuda, adalah sebuah rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong. Di gedung milik Sie Kok Liong ini pernah tinggal beberapa tokoh pergerakan, seperti Muhammad Yamin, Aboe Hanifah, Amir Sjarifuddin, A.K. Gani, Mohammad Tamzil, atau Assaat dt Moeda. Sejak 1925 gedung Kramat 106 menjadi tempat tinggal pelajar yang tergabung dalam Jong Java. Mereka kebanyakan pelajar Sekolah Pendidikan Dokter Hindia alias Stovia. Aktivis Jong Java menyewa bangunan 460 meter persegi ini karena kontrakan sebelumnya di Kwitang terlalu sempit untuk menampung kegiatan diskusi politik dan latihan kesenian Jawa. Anggota Jong Java dan mahasiswa lainnya menyebut gedung ini Langen Siswo.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sejak 1926, penghuni gedung ini makin beragam. Mereka kebanyakan aktivis pemuda dari daerahnya masing-masing. Kegiatan penghuni gedung itu juga makin beragam. Selain kesenian, mahasiswa di gedung ini aktif dalam kepanduan dan olahraga. Gedung ini juga menjadi markas Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI), yang berdiri pada September 1926, usai kongres pemuda pertama. Penghuni kontrakan, dengan payung PPPI, sering mengundang tokoh seperti Bung Karno untuk berdiskusi. Para pelajar menyewa gedung itu dengan tarif 12,5 gulden per orang setiap bulan, atau setara dengan 40 liter beras waktu itu. Mereka memiliki pekerja yang mengurus rumah yang dikenal dengan nama Bang Salim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Hindia-Belanda selalu mengawasi dengan ketat kegiatan rapat pemuda. Pemerintah memang mengakui hak penduduk di atas 18 tahun mengadakan perkumpulan dan rapat. Namun bisa sewaktu-waktu memberlakukan vergader-verbod atau larangan mengadakan rapat, karena dianggap menentang pemerintah. Setiap pertemuan harus mendapat izin dari polisi. Setelah itu, rapat dalam pengawasan penuh Politieke Inlichtingen Dienst (PID), semacam dinas intelijen politik. Rumah 106 ini juga selalu dalam kuntitan dinas intelijen ini, termasuk rapat ketiga Kongres Pemuda II&lt;strong&gt;.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di gedung ini juga muncul majalah Indonesia Raya, yang dikelola PPPI. Karena sering dipakai kegiatan pemuda yang sifatnya nasional, para penghuni menamakan gedung ini Indonesische Clubhuis, tempat resmi pertemuan pemuda nasional. Sejak 1927, mereka memasang papan nama gedung itu di depan. Padahal Gubernur Jenderal H.J. de Graff sedang menjalankan politik tangan besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan pemuda dialihkan ke Jalan Kramat 156 setelah para penghuni Kramat 106 tidak melanjutkan sewanya pada 1934. Gedung itu lalu disewakan kepada Pang Tjem Jam sebagai tempat tinggal pada 1937-1951. Setelah itu, gedung disewa lagi oleh Loh Jing Tjoe, yang menggunakannya sebagai toko bunga dan hotel. Gedung Kramat 106 disewa Inspektorat Bea dan Cukai untuk perkantoran pada 1951-1970.&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada 1968, Sunario berprakarsa mengumpulkan pelaku sejarah Sumpah Pemuda, dan meminta kepada Gubernur DKI mengelola dan mengembalikan gedung di Kramat Raya 106 milik Sie Kong Liang yang telah berganti-ganti penyewa dan pemilik kepada bentuknya semula. Tempat ini disepakati menjadi Gedung Sumpah Pemuda, tetapi usulan mengganti nama jalan Kramat Raya menjadi jalan Sumpah Pemuda belum tercapai.&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gedung Kramat 106 sempat dipugar Pemda DKI Jakarta 3 April-20 Mei 1973 dan diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 20 Mei 1973 sebagai Gedung Sumpah Pemuda. Gedung ini kembali diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 Mei 1974. Dalam perjalanan sejarah, Gedung Sumpah Pemuda pernah dikelola Pemda DKI Jakarta, dan saat ini dikelola Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5213984288985365579-8516768756568264644?l=garuda-khatulistiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/feeds/8516768756568264644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5213984288985365579&amp;postID=8516768756568264644' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/8516768756568264644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/8516768756568264644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/2008/11/sumpah-pemuda.html' title='Sumpah Pemuda'/><author><name>pandu rizki alfian</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SLZfkK4VTkI/AAAAAAAAABo/dMnL7Rb0axQ/S220/pandu+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SS0eXxOybVI/AAAAAAAAACs/0zza1hm3ogE/s72-c/450px-Kongrespemuda2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5213984288985365579.post-1134986610440935689</id><published>2008-11-22T14:43:00.000+07:00</published><updated>2008-11-26T17:12:09.306+07:00</updated><title type='text'>Bangkitkan Semangat Perjuangan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SS0gu3FjreI/AAAAAAAAAC0/clfJziezn1A/s1600-h/images.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 147px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SS0gu3FjreI/AAAAAAAAAC0/clfJziezn1A/s320/images.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272906728154050018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Semarak peringatan hari ulang tahun Republik Indonesia 17 Agustus mendatang, sudah mulai terasa. Nuansa merah putih sudah terlihat hampir diseluruh sudut kota. Mulai dari bendera merah putih, umbul-umbul, hingga penjual aksesoris 17-an yang sering dijumpai di tepi jalan atau di perempatan lampu merah. HUT RI mengingatkan kita pada suatu peristiwa penting negeri ini, perjuangan para pahlawan melawan penjajah demi merebut kemerdekaan yang kita nikmati saat ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Semangat 45 yang dikobarkan harus senantiasa kita pertahankan, demi mewujudkan kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan yang sudah kita raih lebih dari setengah abad itu merupakan titik awal perjuangan kita untuk mengisi kemerdekaan yang sudah berada di genggaman. Kemerdekaan yang sudah kita raih dan sedang kita nikmati adalah kemerdekaan secara fisik. Benar, secara fisik atau rill kita telah merdeka. Tapi sebenarnya, saat inilah perjuangan yang tidak kalah hebatnya dibanding perjuangan pahlawan revolusi kita. Bahkan mungkin, perjuangan yang sedang kita lakukan saat ini bisa dikatakan lebih berat. Mengapa lebih berat?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Betapa tidak? 1945 musuh yang harus dilawan sangat nyata, tampak didepan mata dan aktifitasnya benar-benar nyata. Tapi kini, musuh yang harus kita lawan tak tampak secara kasat mata. Tidak nampak secara kasat mata, bukan lantaran berada di alam ghaib, atau musuh kita menggunakan trik agar tak terlihat oleh kita. Tetapi musuh yang harus kita hadapi menjelma menjadi teman bahkan sahabat karib dalam kehidupan kita. Apa sebutan yang layak kita berikan kepada modernisasi yang hari demi hari menggerogoti moral anak-anak negeri ini, kalau bukan penjajah? Apa juga julukan yang pantas kita dikasihkan kepada tayangan-tayangan televisi yang menyajikan tontonan yang mampu menggiring generasi penerus negeri ini pada pergaulan bebas? Pilihan ada pada diri individu masing-masing. Apakah masih mau dijajah setelah merdeka dari penjajahan? Atau melanjutkan perjuangan ini hingga kita sampai pada kemerdekaan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitu banyak PR yang harus kita lanjutkan demi melanjutkan perjuangan para pahlawan kita. Semangat perjuangan harusnya mampu memberikan kita motivasi untuk bisa menjadi individu yang bisa memberikan energi positif bagi negeri yang sedang berjalan tertatih ini, bukan sebaliknya. Salah jika kita hanya menghayati semangat perjuangan pada 17 agustus saja. Karena perjuangan yang sejatinya harus kita lakukan setiap detik dan setiap waktu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hadirkan semangat merah putih di setiap aktifitas kita. Mengingat serta menjaga semangat itu akan membuat kita malu ketika kita hendak mengkhianati sesama, negara atau bahkan mengkhianati diri sendiri. Malu karena kita hanya ingin mendapatkan laba dari negeri yang sebenarnya sedang membutuhkan perhatian demi bangkit dari keterpurukan. Keterpurukan dari segi pendidikan, ekonomi, moral dan masih banyak aspek lain yang membutuhkan sentuhan tangan-tangan kita sang pejuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyambut hari paling bersejarah bagi semua orang di Indonesia ini, sudah pantaslah jika kita mulai membangkitkan semangat perjuangan yang mungkin sedang tertidur pulas dengan mimpi-mimpinya. Kita bangunkan semangat perjuangan kita, kita ajak dan sambangi orang-orang terdekat kita, sebarkan semangat perjuangan ini, demi sesuatu yang lebih berarti. Hingga saat hari kemerdekaan itu datang, kita bisa benar-benar memaknainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadikan momentum hari kemerdekaan untuk terus memupuk semangat perjuangan demi membawa negeri ini menuju negeri yang lebih arif serta bijaksana dalam menghadapi segala macam persoalan. Tak ada waktu lagi untuk bermalas-malasan. Negeri ini tak menyediakan tempat bagi siapapun yang tak berani berjuang demi suatu kebenaran dan kemajuan semua orang. Berjuang dengan cara yang benar, bukan berjuang dengan menghalalkan segala cara demi mendapatkan kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5213984288985365579-1134986610440935689?l=garuda-khatulistiwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/feeds/1134986610440935689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5213984288985365579&amp;postID=1134986610440935689' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/1134986610440935689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5213984288985365579/posts/default/1134986610440935689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garuda-khatulistiwa.blogspot.com/2008/11/bangkitkan-semangat-perjuangan.html' title='Bangkitkan Semangat Perjuangan'/><author><name>pandu rizki alfian</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SLZfkK4VTkI/AAAAAAAAABo/dMnL7Rb0axQ/S220/pandu+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jU9rYkrZU_s/SS0gu3FjreI/AAAAAAAAAC0/clfJziezn1A/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
